Cari Artikel

Statistics

Jumlah Kunjungan Konten : 39530

Yang Online

Kami memiliki 8 Tamu online

Login Form

Buat account Untuk dapat mengomentari artikel dan fitur tambahan di uswah.net!



Peta Situs

UswahSko

UswahSko: Sitem Informasi Sekolah

UswahShop

UswahShop
Syubhat dan Jawaban
MENOLAK HIZBUT TAHRIR YANG MENOLAK HADITS AHAD TIDAK MUTAWATIR DAN BUKAN HUJJAH DALAM AQIDAH PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Syubhat dan Jawaban - Syubhat dan Jawaban
Ditulis oleh Ryan Sofyan   
Share |
Thursday, 26 Safar 1431

DEFINISI HADITS MUTAWATIR DAN HADITS AHAD

MENOLAK HIZBUT TAHRIR YANG MENOLAK HADITS AHAD TIDAK MUTAWATIR DAN BUKAN HUJJAH DALAM AQIDAHHadits Mutawatir menurut bahasa adalah mengikuti, dari kata al-witru yaitu sendiri, datang sendiri secara bergantian. Adapun menurut istilah Mutawatir artinya hadits yang diriwayatkan oleh banyak jalan sehingga mustahil untuk mereka berbuat dusta, dan semua sanadnya terpercaya dan memberikan manfaat ilmu yang sangat penting menurut mayoritas ulama’. ( Akhbarul Ahad Fi Haditsin Nabawy. Syaikh Jibrin. 1/22 )

Hadits Mutawatir Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh banyak sanad yang berlainan perawinya dan mustahil kalau mereka bersepakat dalam kedustaan karena mengingat banyak jumlahnya dan keadilannya serta perbedaan tempatnya. ( Marwiyat al-La’ni Fis Sunnah. DR. Basim Faishal al- Jawabrah : 291 )

 

Syarat hadits Mutawatir adalah :

 

1. Jumlah jalan periwayat sangat banyak

2. Terus bersambung dalam sanadnya.

3. Khobar dari mereka berfaedah ilmu dan bukan prasangka.

4. Semua sanadnya adil, terpercaya dan tidak berdasarkan akal.

. ( Akhbarul Ahad Fi Haditsin Nabawy. Syaikh Jibrin. 1/22 )

 

Hadits Ahad menurut bahasa adalah satu adapun menurut istilah menurut jumhur ulama’ usul ialah hadits yang diriwayatkan satu jalan atau lebih yang terputus syarat mutawatirnya baik satu atau lebih. ( Akhbarul Ahad Fi Haditsin Nabawy. Syaikh Jibrin. 1/26 )

 

Para ulama’ membagi hadits ahad menjadi 3 bagian :

 

1. Hadits Ghorib : hadits yang diriwayatkan hanya dengan satu jalan, dan ulama’ yang mengamalkan hadits ini adalah Imam at-Tirmidzi Rohimahulloh, dengan perkataanya “ hadits ghorib, kami tidak mengetahuinya kecuali hanya dalam bentuk seperti ini dari haditsnya fulan, atau fulan sendirian dalam meriwayatkan hadits ini. walaupun yang meriwayatkan jama’ah.“

 

Contoh seperti haditsnya Ali dari Abu Bakar secara marfu’ “ tidaklah seorang hamba berbuat suatu dosa kemudian dia berwudhu’ kemudian sholat 2 rokaat kemudian dia minta ampun maka akan diampuni dosa baginya.” ( HR. Ahmad, Ahlu sunan, al-Humaidi, Ibnul Madini dan lainnya.) walau banyak dari riwayat maka apabila ghoribnya kuat maka hadits ini dho’if, dan para ulama’ salaf membenci dengan pengingkaran dalam periwayatan hadits ghorib, meskipun demikian hadits ghorib ada yang shohih dan hasan.

 

2. Hadits Aziz : hadits yang diriwayatkan hanya dari 2 jalan, karena sedikitnya riwayat, adakalanya kuat karena dikuatkan jalan yang ke dua, walaupun yang meriwayatkan banyak jama’ah para ahlul hadits tidak akan keluar dari sifat hadits aziz. Dan hadits ini tidak diragukan akan kuatnya karena banyak jalannya. Seperti contoh hadits “ Tidak beriman salah seorang diantara kalian sehingga aku lebih dia cintai daripada anaknya, kedua orang tuanya, dan semua manusia.” Muttafaqun Alaihi. Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Anas dan Abu Huroiroh hanya saja Imam Hakim juga menshohihkan hadits ini lantaran kuatnya pada huffadz yang meriwayatkan hadits ini dan masyhur.

 

3. Hadits Masyhur : hadits yang diriwayatkan oleh 2 jalan atau lebih dan sambung sanadnya, tetapi tidak masuk dalam hadits mutawatir. Contoh hadits ini adalah haditsnya Anas “ sesungguhnya Nabi Shollallohu alaihi wasallam melakukan qunut satu bulan lamanya untuk mendo’akan suatu kaum.” Muttafaqun Alaihi. Adapun Imam Jassos dari kalangan Hanafiyah menyatakan mutawatir. Adapun jumhur ulama’ mengatakan hadits di atas adalah hadits ahad, dan menamainya dengan pecah atau terbagi karena tersebar di antara manusia. Ada yang masyhur dikalangan ahlil hadits ada yang masyhur dikalangan ahli fiqh, dan masyhur dikalangan ahli nahwu. Ada juga yang masyhur dikalangan ahli usul fiqh. Dan tidak mesti menurut istilah hadits ini sebagai hadits yang kuat, ada juga yang dho’if meskipun diriwayatkan banyak jalan, maka apabila shohihnya menang maka shohih pula perowinya. ( Akhbarul Ahad Fi Haditsin Nabawy. Syaikh Jibrin. 1/29 )

 

STARAT MENGAMALKAN HADITS AHAD

 

Sudah aku katakan tidak semua hadits diterima, apabila hadits telah diterima maka harus ada syarat baik di dalam sanad maupun matannya, karena hal ini menjadi sebab sebuah penukilan yang syah dari sebuah hadits, maka sungguh para shohabat dan orang-orang sesudah mereka terus – menerus hati – hati dalam mengambil ilmu sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam muqoddimah shohihnya atsar yang banyak dari sebagian ulama’ besar yang menetapkan perkara akan kuatnya rowi, dan tidak menerima hadits kecuali pada ahli hadits yang dikenal. 

 

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Sirin Rohimahulloh beliau berkata : sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikan terhadap seseorang yang kalian mengambil agama darinya.

 

Begitu juga yang diriwayatkan dari Sa’ad Bin Ibrohim Rohimahulloh beliau berkata : tidah boleh diambil dari Nabi Shollallohu alaihi wasallam kecuali yang hadits kuat. 

 

Diriwayatkan pula dari Imam al-Baihaqi Rohimahulloh dari Ibrahim an-Nakhoi’I Rohimahulloh bahwa beliau berkata : para ahli hadits ketika ingin mengambil hadits mereka mendatangi nara sumbernya untuk mengambil darinya mereka memperhatikan mulai dari diam sampai sholatnya, kemudian keadannya, kemudian diambil darinya.

 

Dari Ibni Umar dari Umar Rodhiallohu anhuma beliau berkata : Sesungguhnya Umar memerintahkan kami untuk tidak mengambil hadits kecuali yang tsiqoh ( kuat ).

 

Begitu pula Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Abbas Rodhiallohu anhuma beliau berkata : Janganlah kalian mengambil ilmu kecuali yang kalian terima persaksiannya , karena Alloh memberikan syarat pada orang yang bersaksi maka dia harus adil dan bisa diterima yang kalian ridhoi . 

 

Sebagaimana Alloh Ta’la berfirman :

 

تعالى: (واستشهدوا شهيدين من رجالكم فإن لم يكونا رجلين فرجل وامرأتان ممن ترضون من الشهداء)(البقرة:282)

Artinya : Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. ( QS. al-Baqoroh : 282 ) yaitu yang dimaksud adalah orang yang kalian ridhoi agama dan amanatnya.

 

Adapun Syarat Rowi ada 4 yaitu : 

 

1. Berakal sehat baligh tidak gila dan bukan anak-anak.

2. Islam bukan kafir yahudi atau Nashoro atau Majusi dan bukan penyembah berhala atau Musyrik. Kafir Muta’awwil seperti Jahmiyyah, Qodariyyah, Jabariyyah, Murji’ah dan lainnya dan kebanyakan para ulama’ tidak menerima hadits mereka, adapun ahlil bid’ah yang tidak sampai kafir dalam bid’ahnya maka kebanyakan ulama’ menerima hadits mereka.

Adapun ahlul bid’ah yang menguat bid’ahnya maka tidak diterima haditsnya, maka sesungguhny adat dan budayanya akan memudahkan dalam keselektifan hadits tersebut, Karen dia hanya akan tendensius pada dirinya.

3. Pemahaman yang dalam dan kuat serta peka dari yang dia dengar suatu hadits yang datang padanya, tidak mudah lupa dan lalai dalam menghafalkannya.

4. Adil, obyektif dan tengah-tengah dalam semua perkara, yang bersal dari pemikiran yang dalam pada dirinya, tidak meremehkan dan tidak berlebihan atau ( ifroth wattafrith ) adil disini dijelaskan pleh para ulama’ yaitu : dalam semua tindakan pada diriya, dia senantiasa memiliki taqwa dan muru’ah, istiqomah dalam agamanya, selamat dari kefasikan dan maksiyat, dan selamat dari akhlak tercelah, yang menghilangkan taqwa dan hebatnya diri.

( Akhbarul Ahad Fi Haditsin Nabawy. Syaikh Jibrin. 1/32 )

 

 

HADITS AHAD MENJADI HUJJAH

 

Berkata Pentolan Hizbut Tahrir Indonesia Fathi Muhammad Salim dalam kitabnya “ Hadits Ahad dalam Aqidah “ ( Hal. 171 Cet Pustaka al-Izzah ) :” Hadits ahad meskipun pada hakekatnya shohih tetapi dia dhonni tidak qoth’I atau tsubut dan tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah-masalah aqidah.”

 

Seandainya kita jawab dengan akal maka baik juga karena dia mengucapkan sesuatu perkara tanpa didasari ilmu, apabila hadits ahad tidak bisa dijadikan aqidah sedikit sekali ilmu tentang aqidah ini dan bisa dihitung dengan jari, dan kalau dia hanya membawakan hadits mutawatir saja dalam aqidah maka ketika dia menyampaikan hadits tersebut dia harus sertakan sanad rowi dan banyak jalan yang ada dalam hadits tersebut di tempat kajian atau masjidnya rombongan, apakah dia mampu ? ya..mustahil….!!!!

 

Dalilnya :” Apabila ada khobar yang adil maka dia mempunyai faidah ilmu “

Dan ini merupakan pendapat madzhab jumhur dan mayoritas salaf, dan kebanyakan ahli hadits dan ahli fiqih dan pengikut Imam 4 dan selainnya. Dan ini shohih menurut Imam Ahmad, dan telah masyhur darinya hadits ahad qoth’I tentang melihat Alloh di surga bagi orang yang beriman dan ilmu yang menjelaskannya, maka menurut beliau hadits itu adalah hadits ahad yang mutawatir karena banyaknya jalan yang meriwayatkannya.

Maka hadits yang shohih dan masyhur dari hadits ahad merupakan hadits yang qoth’I karena kuatnya hadits yang memenuhi kreteria hadits shohih. Dan para ulama’ lainnya juga mengatakan bahwa hadits ahad adalah hadits qoth’I apabila memenuhi kreteria tsiqoh atau kuat dan berfaidah ilmu. ( Akhbarul Ahad Fi Haditsin Nabawy. Syaikh Jibrin. 1/35 )

 

Berkata Imam Syafii Rohimahulloh :” Saya tidak mendapatkan perselisihan dari kalangan ahlil ilmi tentang menerima hadits ahad.” ( ar-Risalah : Hal. 457 )

 

Berkata Imam Ibnu Abdil Barr Rohimahulloh :” Ahlil ilmi dari kalangan pakar fiqih dan hadits di setiap negeri, sepanjang pengetahuan saya telah sepakat untuk menerima hadits ahad dan mengamalkannya. Inilah keyakinan seluruh ahlil ilmi pada setiap masa semenjak masa sahabat hingga saat ini kecuali kelompok khowarij dan ahlil bid’ah yang perselisihan mereka tidak dianggap.” ( at-Tamhid. 1/11 )

 

Berkata Imam al-Khotib al-Baghdadi Rohimahulloh :” Ijma’ para ulama’ untuk menerima hadits ahad.” ( al-Kifayah Fi Ilmir Riwayah. Hal. 47 )

 

Berkata Imam Abu Mudhoffir as-Sam’ani Rohimahulloh:” Sesungguhnya suatu hadits apabila telah shohih dari Rosulullohu Shollallohu alaihi wasallam maka dia mengandung faidah ilmu. Inilah perkataan seluruh ahlil ilmi dan ahlussunnah. Adapun faham yang menyatakan bahwa haditsahad tidak mengandung ilmu dan harus berderajat mutawattir, maka faham ini hanyalah dibuat-buat oleh kaum Qodariyyah dan Mu’tazilah dengan bertujuan untuk menolak hadits Nabi. Faham ini kemudian diusung oleh orang yang kurang mantap ilmu dan tidak mengetahui tujuan faham ini. Seandainya setiap kelompok mau adil, sungguh mereka akan menetapkan bahwa hadits ahad mengandung ilmu karena engkau lihat sekalipun keadaan yang compang-camping dan beragam aqidah mereka, namun setiap kelompok dari mereka berhujjah dengan hadits ahad untuk menguatkan fahamnya masing-masing.” ( al-Hujjah Fi Bayanil Mahajjah. 2/228-230 )

 

HADITS AHAD HUJJAH DALAM AQIDAH

 

Kita katakan pada mereka “ Mas kalau tidak mengerti ilmu hadits bertanyalah pada ahlinya “ lawong orang bukan ahli hadits berbicara masalah hadits ya bingung deh..! atau seperti orang tidak mengerti tataboga bagaimana dia bebicara masalah tataboga, atau dia sebagai ahli tatabusana mengurusi teknik bangunan, wah bisa jadi rumah itu seperti celana bentuknya.

 

” Alloh berfirman :

 

فسئلوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون)(:43)

Artinya : bertanyalah pada ahlinya jika kamu tidak mengetahui. ( QS. an-Nahl : 43 ) 

Berkata Syair :

 

فان كنت لاتدري فتلك مصيبة

او كنت تدري فالمصيبة اعظم

 

Jika kamu tidak tahu maka itu musibah

Jika kamu tahu tapi tidak menerima kebenaran maka musibahnya lebih besar.

 

وليس يصح في الاذهان شسئ

اذا احتاج النهار الى دليل

 

Sungguh tidak masuk akal sama sekali

Bila sesuatu yang sudah jelas masih butuh dalil.

 

وهبني قلت ان الصبح ليل

ايعمي المبصرون عن الضياء

 

Dia menginformasikan padaku bahwa kamu mengatakan

Sesungguhnya subuh itu malam

Apakah pemilik mata sudah buta dari sinar.

 

Kenapa mereka mempermasalahkan aqidah dalam mengkritisi suatu hadits kok bukan masalah furu’iyyah, padahal aqidah sangat urgent bagi kaum Muslimin? Jelas jawabannya adalah mereka terprofokasi penyusup asing dari yahudi dan nashoro yang ingin merusak dan menghancurkan Islam atau mungkin mereka adalah corong Iblis dan corong mereka dalam menyuarakan kesesatan dan kebatilan, mereka tahu bahwa kekuatan dan Kejayaan Islam dimulai dari aqidah dulu begitu pula apabila ingin merusak Islam juga dimulai dari aqidah dulu. Sebagaimana yang dikatakan Syaikh Jibrin Rohimahulloh : Dan kebanyakan ahlul bid’ah yang menyimpang dari agama, mereka menutupi Islam dengan merusak aqidahnya dulu, kemudian memutar balik fikiran, dan salaf mengingkari bid’ahnya mereka, dan salaf memperingatkan agar jangan duduk dan berteman bersama mereka. ( Akhbarul Ahad Fi Haditsin Nabawy. Syaikh Jibrin. 1/70 )

 

Berkata Imam Ibnul Qoyyim Rohimahulloh :”Faham menolak hadits ahad dalam aqidah adalah batil menurut kesepakatan ulama’ Karena mereka selalu berhujjah dengan hadits-hadits ini baik dalam masalah aqidah maupun ahkam…para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, serta ahli hadits dan sunnah , mereka selalu berhujjah dengan hadits-hadits ini baik dalam masalah asma’ wa sifat, taqdir dan juga dalam masalah ahkam. Lantas siapakah pendahulu para pembela kesesatan tersebut? ( pen. Jawabannya adalah “ akal kami “ ) ya. Pendahulu mereka adalah ahli kalam ( filsafat ) yang tidak mempunyai perhatian tentang Alloh, RosulNya serta para sahabat bahkan mereka menghalangi hati manusia dari sianr petunjuk Al-Qur’an, sunnah dan perkataan sahabat serta menggantinya dengan teori filsafat.” ( Mukhtashor Showaiqul Mursalah. 2/412 )

 

Berkata Imam Ibnul Qoyyim Rohimahulloh :” Kelompok ketiga mengatakan:” kami menerima hadits-hadits Nabi Shollallohu alaihi wasallam yang mutawattir dan kami menolak hadits-hadits ahad baik berupa ilmu maupun amal. Imam Syafii pernah berdialog dengan sebagian manusia pada zamannya tentang masalah ini, kemudian Syafii mematahkan syubhat lawannya dan menegakkan hujjah-hujjah kepadanya. Syafii membuat satu bab yang panjang tentang wajibnya menerima hadits ahad. Tidaklah beliau dan seorangpun dari ahli hadits membedakan antara hadits masalah ahkam dan sifat. Faham pembeda seperti ini tidak dikenal dari seorangpun dari para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, maupun seorang dari kalangan Imam Islam. Faham ini hanya dikenal oleh ahlul bid’ah dan cucu mereka.” ( Mukhtashor Showaiqul Mursalah. 2/412 )

 

HADITS –HADITS AQIDAH YANG MEREKA TOLAK DENGAN ALASAN HADITS AHAD DAN TIDAK MUTAWATIR.

 

Coba kita lihat dalam masalah aqidah hal-hal yang mereka tolak sebagai hadits mutawattir dan mereka mengatakan sebagai hadits ahad. Yaitu :

1. Siksa kubur

2. Pertanyaan Munkar dan Nakir

3. Keluarnya Dajjal

4. Turunnya Isa bin Maryam

5. Munculnya Imam Mahdi.

 

Ini adalah perkataan gembong Hizbut Tahrir yang bernama Abdur Rahman Baghdadi sebagaimana dalam kitab “ Hadits Ahad dalam Aqidah “ ( Hal. 171 Cet Pustaka al-Izzah )

 

1. SIKSA KUBUR

 

Bersabda Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam :” Adzab Kubur itu haq ( benar

adanya ) . ( HR. Ahmad. 6/174 dari Aisyah dan sanadnya shohih. As-Shohihah No. 1377 )

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahulloh :” Dan telah mutawatir hadits-hadits dari Nabi Shollallohu alaihi wasallam tentang fitnah ini dari Barro’ bin Azib, Anas Bin Malik, Abu Huroiroh, dan sebagainya.” ( Majmu’ Fatawa. 4/257 ).

 

Berkata Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah Rohimahulloh:” Dan hadits-hadits tentang adzab kubur hampir saja mencapai derajat mutawatir.” ( Miftah Daris Sa’ada. 1/207 ).

Berkata al-Allamah al-Aini Rohimahulloh :” Keyakinan kita ini berdasarkan hadits-hadits shohih dan mutawatir diantaranya adalah hadits bab ini. Dalam hadits ini terdapat penetapan akan adanya adzab kubur. Ini merupakan madzhab Ahlussunnah Wal Jama’ah dan diingkari oleh Dhiror Bin Amr dan Bisyr al-Marrisy serta mayoritas Mu’tazilah belakangan.” ( Fathul Bari. 3/233 )

 

Berkata Imam Ibnu Abdil Barr Rohimahulloh :” Hadits-hadits tentang adzab kubur derajatnya mutawatir. Seluruh Ahlussunnah Wal Jama’ah mengimaninya dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali ahli bid’ah.” ( at-Tamhid. 12/186 )

 

Imam al-Baihaqi Rohimahulloh Menulis kitab tentang adzab kubur dengan judul “ Itsbatu Adzabil Qobri “ Cet. Darul Furqon. 1405. Amman, Ordon.

 

Berkata Imam Ibnu Rojab al-Hambali Rohimahulloh :” Dan sungguh telah mutawatir hadits-hadits dari Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam tentang adzab kubur dan berlindung diri darinya.” ( Ahwalul Qubur. Hal. 81 )

 

Al-Allamah Imam as-Safariny berkata :” Beriman dengan adzab kubur adalah wajib menurut syari’at karena telah shohih sejumlah hadits dari Nabi Shollallohu alaihi wasallam yang mencapai derajat mutawatir.” ( Lawami’ul Anwar. 2/5 )

 

Berkata Imam as-Suyuthi :” Hadits tentang adzab kubur dikuatkan oleh 29 sahabat.” ( Syarah Sudur. Hal. 48 )

 

Syaikh al-Albani berkata :” Hadits-hadits seputar masalah adzab kubur derajatnya mutawatir. Tidak boleh diragukan lagi dengan alas an bahwa haditsnya ahad. Seandainya toh haditsnya tetap ahad maka wajib mengimaninya sebab al-Qur’an mendukungnya Alloh berfirman :

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (46) 

Artinya : Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang[1324], dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras." ( QS. al-Ghofir. 46 ) ( Silsilah as-Shohihhah. Juz. 1 Hal. 295-296 ).

 

AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH SEPAKAT TENTANG ADZAB KUBUR.

 

Berkata Imam Ahmad Bin Hambal Rohimahulloh :” Adazb kubur adalah haq, tidaklah mengingkari kecuali orang yang sesat dan menyesatkan.” ( Thobaqotul Hanabilah. 1/66 ).

 

Berkata Abul Hasan al-Asy’ary Rohimahulloh :” Ahlussunnah telah sepakat bahwa adzab kubur itu benar.” ( Risalah Ahlis Shoghor. Hal. 279 )

 

Berkata Al-Ajurry Rohimahulloh :” Alangkah jeleknya orang yang mengingkari hadits-hadits ini. Sungguh mereka telah tersesat dengan kesesatan yang amat jauh.” ( as-Syari’ah. 364 )

 

Berkata Imam Nawawi Rohimahulloh :” Madzab Ahlil Haq adalah menetapkan adzab kubur bagi orang-orang kafir dan ahli maksiat yang dikehendaki Alloh.” ( al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab. 5/293 )

 

Berkata Imam al-Ashfahani Rohimahulloh dalam kitabnnya “ al-Hujjah Fi Bayanil Mahajjah “ Bantahan kepada para pengingkar adzab kubur .” ( al-Hujjah..1/499 )

 

Syaikh Abdul Qodir al-Jailani Rohimahulloh :” Iman dengan adzab kubur adalah wajib.” ( al-Ghunyah. 1/66 )

 

Al-Allamah Imam as-Safariny berkata :” Masalah ini, disamping merupakan konsekwensi dari hadits-hadits shohih, ahlissunnah juga sepakat tentang masalah ini..” ( Lawami’ul Anwar. 2/5 )

 

Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani Rohimahulloh :” Dalam hadits tentang berlindung kepada Alloh dari adzab kubur terdapat bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari adzab kubur.” ( Fathul Bari. 2/318 )

 

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rohimahulloh :” Madzhab seluruh kaum Muslimin dan bahkan seluruh agama menyatakan adanya “kiamat kubro” dan kiamat bagi manusia di kubur mereka baik siksa dan pahala, di sanalah mereka akan mendapat pahala dan siksa yaitu di alam barzah, alam antara mati dan akherat sampai hari kiamat, dan ini merupakan perkataan salaf dan ahlussunnah waljama’ah, sesungguhnya yang mengingkari adanya alam barzah cuman sedikit dari ahlil bid’ah, adapun ahlul kalam mengatakan hanya badannya saja yang mendapatkan hal itu yaitu dari Mu’tazilah dan Asy’ariyah, adapun yang berpendapat yang mendapat siksa dan nikmat kubur ialah hanya ruhnya saja, karena mereka beranggapan di alam barzah tidak ada siksa dan nikmat bagi badan atau fisik, ini pendapat Ibnu Hazm dan Ibnu Maisaroh.” ( Majmu’ Fatawa. 4/262 )

 

2. PERTANYAAN MUNKAR NAKIR

 

Dari Abu Huroiroh Rodhiallohuanhu berkata : Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam :” Apabila seorang mayit dikubur, maka datanglah kedua malaikat yang hitam dan biru dikatakan kepada salah satunya Munkar dan lainnya Nakir…”( Tirmidzi. 2/163. Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah. 864 ) as-Shohihah. No. 1391 )

 

Al-Allamah Ibnu Abi Izzi al-Hanafiyah Rohimahulloh berkata :” Dan telah mutawatir hadits-hadits dari Nabi Shollallohu Alaihi Wasallam tentang adzab dan nikmat kubur serta pertanyaan dua malaikat. Maka wajib beriman tentang adanya hal tersebut.” ( Syarah Aqidah Thohawiyah. Hal. 395 )

 

Imam as-Syaukani Rohimahulloh berkata :” Dan telah datang hadits-hadits yang banyak sekali tentang pertanyaan Malaikat kepada mayit di kuburnya dan tentang adzab kubur tetapi bukan di sini tempat memaparkannya, hadits-hadits sudah masyhur.” ( Fathul Qodir .3/108 )

 

Syaikh al-Albani Rohimahulloh berkata :” Pertanyaan dua malaikat adalah haq, wajib diimani dengannya. Hadits-hadits tentangnya mencapai derajat mutawatir pula. ( Aqidah Thohawiyah Syarh Wat Ta’liq. Hal. 73. as-Shohihah. No. 1/297 )

 

AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH SEPAKAT TENTANG PERTANYAAN KUBUR.

 

عن عثمان بن عفان رضى الله عنه قال: " كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه فقال: استغفروا لاخيكم، وسلوا له التثبيت، فإنه الان يسإل ".

أخرجه أبو داود (2 / 70) والحاكم (1 / 370 والبيهقي (4 / 56) وعبد الله بن أحمد في " زوائد الزهد " (ص 129) وقال الحاكم: " صحيح الاسناد "، ووافقه الذهبي: وهو كما قالا، وقال النووي (5 / 292: " إسناده جيد ".

 

Dari Utsman bin Affan Rodhiallohuanhu berkata : Adanya Nabi Shollallohu Alaihi Wasallam apabila selesai menguburkan jenazah beliau berdiri di atasnya dan berkata :” Mintakanlah ampun atas saudara kalian ini dan mintakanlah ketetapan iman baginya, sesungguhnya sekarang dia sedang ditanya.” ( HR. Abu Dawud. 2/70. al-Hakim. 1/370. al-Baihaqi. 4/56. Abdulloh bin Ahmad. Zawaid Zuhdi. Hal. 129. al-Hakim berkata :” sanadnya shohih”dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi. Berkata Imam Nawawi. “ sanadnya baik” Syarah Nawawi : 5/292 )

 

Berkata Imam Ahmad bin Hambal Rohimahulloh :” Munkar dan Nakir, keduanya adalah malaikat penannya dalam kubur.” ( Thobaqot Hanabilah. 1/55 )

 

Berkata Imam Ahmad bin Hambal Rohimahulloh :” Sesungguhnya ummat ini akan diuji dalam kuburnya dan ditanya tentang Iman dan Islam, siapa tuhanmu, siapa nabimu, dan Munkar serta Nakir datang padanya sebagaimana yang dikendaki oleh Alloh. Dan beriman serta membenarkan dengannya adalah wajib.” ( Usulus Sunnah. Hal. 56 )

 

Berkata Imam Abu Hatim ar-Rozi dan Abu Zar’ah ar-Rozi Rohimahumulloh :” Adazb kubur itu haq dan Munkar dan Nakir itu haq.” ( Syarah Usul I’tiqod Ahlis Sunnah Wal Jama’ah. Imam al-Lalika’i. 1/203 )

 

Berkata Abu Bakar bin Abu Dawud Rohimahulloh dalam qosidahnya :”

 

ولاتنكرن جهلا نكيرا ومنكرا

ولا الحوض والميزان انك تنصح

 

Dan janganlah engkau ingkari dengan kebodohan Nakir dan Munkar

Demikian juga telaga Nabi Shollallohu Alaihi Wasallam dan timbangan amal.

( Siyar A’lamin Nubala’. 13/235 )

 

Berkata Ibnu Wahban Rohimahulloh dalam Mandzumahnya :”

 

وحق سؤال القبر ثم عذابه

وكل الذي عنه النبيون اخبروا

حساب وميزان صحائف نشرت

جنان ونيران صراط ومحشر

 

Dan benar adanya pertanyaan kubur dan adzab kubur

Dan setiap yang dikabarkan oleh para Nabi Shollallohu Alaihi Wasallam, hisab, mizan, catatan amal, surga, neraka, syirot dan mahsyar.

 

Ibnu Syahinah Rohimahulloh memberikan komentar atas bait di atas :” Dalam dua bait mengandung dua hal. Pertama pertanyaan Munkar dan Nakir. Kedua adanya dua Malaikat yang memberi pertanyaan kepada hamba di kuburnya tentang agama dan Nabinya. Masalah ini wajib diimani karena bukan perkara yang mustahil. Nabi Shollallohu Alaihi Wasallam mengabarkan dalam hadits-hadits yang shohih. “ ( al-Ayatul Bayyinat. Hal. 81. Oleh : Imam al-Allusi Rohimahulloh. Tahqiq Syaikh al-Albani. )

 

Berkata Imam Muhammad bin Ali As-Shuri Rohimahulloh gurunya al-Imam al-Khotib al-Baghdadi:

 

قل لمن عاند الحديث واضحى 

عائبا اهله ومن يدعيه

ابعلم تقول هذا ابن لي

ام بجهل فالجهل خلق السفيه

 

 

Katakanlah pada penentang hadits dan musuh ahlul hadits.

Jelaskan kepadaku apakah dengan ilmu mengatakan ini.

Ataukah dengan kejahilan padahal itu adlah perangai orang yang tidak waras.

 

3. KELUARNYA DAJJAL.

 

Dari Abu Huroiroh Rodhiallohuanhu berkata : bersabda Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam bersabda:” Tidak ada seorang Nabipun kecuali telah memperingatkan pada umatnya dari Dajjal yang buta. Ketahuilah bahwa Dajjal itu buta sedangkan Robb kalian tidaklah buta dan Dajjal tertulis antara kedua matanya “kafir”.( HR. Bukhori. No. 7131. Muslim. No. 2933 )

 

Dari Abdirrahman bin Auf Rodhiallohuanhu berkata : Sesungguhnya Rosulullohu Shollallohu alaihi wasallam bersabda :” sesungguhnya ada kaum sesudahku nanti mereka mendustakan hukum rajam, keluarnya Dajjal, Adzab kubur, Syafa’at, dan kaum yang masuk surga setelah mereka jadi hitam kelam.” ( HR. Bukhori. 6711. Ahmad. 1/23. Abdurrozaq. 7/330. Thoyalisi. 25. Daruquthni. 3/122. dengan sanad yang shohih )

 

Imam as-Syaukani Rohimahulloh menjelaskan satu bab khusus dalam kitabnya “at-Taudhih “ tentang mutawatirnya hadits-hadits turunnya al-Muntadhor ( Imam Mahdi ) Dajjal, Nabi Isa alaihissalam berjumlah 29 hadits. ( at-Tashrih Bima Tawataro ala Nuzulil Masih. 1/55. Imam Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri al-Hindi )

 

Al-Allamah as-Sayyid Mahmud al-Allusi Rohimahulloh dalam tafsirnya “ Ruhul Ma’ani” tidak mencelah tentang akhir kenabian Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam, dan yang disepakati oleh ulama’ tentang turunnya Nabi Isa alaissalam, Dajjal, al-Mahdi. Dan sampai pada derajat mutawatir secara maknawy dan yang dijelaskan dalam al-Qur’an.” ( at-Tashrih Bima Tawataro ala Nuzulil Masih. 1/55. Imam Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri al-Hindi )

 

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata :” Adapun hadits-hadits tentang turunnya Dajjal banyak sekali, terlalu banyak untuk dibatasi lantaran begitu banyak bertebaran dalam kitab shahih, Hasan, Musnad, dan lainnya.” ( Tafsir Ibnu Katsir . 2/566 )

 

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata :” al-Hafidz guru kami adz-Dzahabi mengatakan : “ Hadits-hadits tentang berlindung diri dari Dajjal derajatnya mutawatir, salah satunya dengan menghafal 10 ayat surat al-Kahfi. Beliau juga menceritakan bahwa gurunya telah menulis kitab khusus tentang Dajjal.” ( Bidayah wan Nihayah.1/124 )

 

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani Rohimahulloh menyebutkan di dalam kitabnya Fathul Bari tentang mutawatirnya hadits turunnya Nabi Isa Alaihi Salam dari Abil Husain al-Abarri dan juga dalam kitabnya Talhisul Habir Bab at-Tholaq. ( at-Tashrih Bima Tawataro ala Nuzulil Masih. 1/55. Imam Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri al-Hindi )

 

Berkata Imam Ahmad bin Hambal Rohimahulloh :” Wajib beriman kepada keluarnya Dajjal yang tertulis di antara kedua matanya kaf, fa’, ro’ ( kafir ) dan hadits-hadits yang datang padanya, dan beriman akan keberadaanya, sesungguhnya Isa akan turun dan membunuh Dajjal di dekat pintu Lud.” ( Usulus Sunnah. Hal. 58 )

 

Berkata Imam al-Barbahari Rohimahulloh :” Wajib beriman kepada keluarnya Dajjal, Turunnya Nabi Isa alaihi salam dan membunuh Dajjal, menikah, dan sholat dibelakang Imam Mahdi, mati kemudian dimakamkan oleh kaum Muslimin.” ( HR. Muslim. 2136. Syarhus Sunnah Imam al- Barbahari. 143 )

 

Al-Muhaddits al-Asyri al-Allamah Syaikh al-Albani Rohimahulloh menjelaskan tentang hal ini dalam kitabnya “ Qishotul Masihid Dajjal Wa Nuzuli Isa alaihi assalam Wa qotlihi Iyyahu “ dengan uraian yang panjang dan lengkap, yang diterbitkan oleh Maktabah al-Islamiyyah, Amman Yordan. Cet. Pertama 1421 H.

 

Berkata al-Imam as-Syaukani Rohimahulloh dalam kitabnya “ at-Taudhih fi Tawaturi Maa Jaa’a Fil Muntadhor al-Mahdi wa Dajjal wal Masih “:” Hadits-hadits tentang turunnya Isa, keluarnya Dajjal dan munculnya Mahdi semua derajadnya mutawatir.” ( Aunul Ma’bud .11/308. Syaikh Syaroful Hag Abadi )

 

AQIDAH AHLUSSUNNAH TENTANG DAJJAL

 

Berkata Imam al-Qodhi Iyadh Rohimahulloh :” Hadits-hadits tentang Dajjal merupakan hujjah bagi ahlissunnah waljama’ah tentang kebenaran adanya Dajjal….Inilah madzhab ahlissunnah waljama’ah dan seluruh ahli hadits dan ahli fiqih. Sungguh hal ini telah diingkari oleh sebagian Khowarij, Mu’tazilah dan Jahmiyyah sehingga mereka mengingkari wujudnya Dajjal dan menolak hadits-hadits yang shohih.” (Fathul Bari. 14/618-619. Syarah Shohih Muslim. 18/371 )

 

Berkata Imam Ibnu Abi Ashim Rohimahulloh :” saya mendengar Ubaidulloh bin Mu’adz al-Anbary mengatakan :” Tidak ada hadits yang lebih keras bagi kelompok qodariyyah daripada hadits tentang Dajjal.” ( as-Sunnah. 1/281. Tahqiq DR. Basim Bin Faishol. )

 

Berkata Imam al-Ashbahani Rohimahulloh :” “ Pasal penjelasan bahwa Dajjal akan keluar tanpa keraguan, Adapun kelompok Jahmiyyah, mereka mengatakan bahwa Dajjal adalah setiap orang yang jelek.” ( al-Hujjah Fi Bayanil Mahajjah. 1/416 )

 

Berkata Imam Abul Hasan al-Asy’ari Rohimahulloh :” ketika menceritakan prinsip dasar aqidah ahli hadits. Mengatakan : dan ahlul hadits mereka membenarkan adanya Dajjal dan Nabi Isa Alaihissalam akan membunuhnya.” Kemudian beliau mengatakan di akhir kata :” setiap prinsip mereka itulah prinsip saya.” ( al-Maqolat Islamiyyin. 1/345-348 )

 

Berkata Imam at-Thohawi Rohimahulloh :” Kita beriman dengan tanda-tanda hari kiamat seperti keluarnya Dajjal dan turunnya Isa bin Maryam dari langit.” ( Syarah Aqidah at-Thohawiyah. Hal. 564. Tahqiq al-Albani. )

 

4. TURUNNYA NABI ISA ALAIHISSALAM

 

Dari abi Huroiroh Rodhiallohuanhu berkata :” Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam bersabda :” Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya , sungguh pasti akan turun pada kalian Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil lalu dia menghancurkan salib, membunuh babi dan membebaskan pajak, dan harta melimpah sehingga tidak ada yang mau menerimanya.” ( HR. Bukhori. No. 2222. Muslim. No. 242 )

 

Berkata Ibnu Abbas Rodhiallohuanhuma :” Masalah ini tidak ada perbedaan satupun dari ahlu iman dan ahlussunnah ( pen. Kecuali orang yang tidak waras akalnya ) sesungguhnya Isa bin Maryam alaihissalam mati setelahnya, sesungguhnya Alloh mengangkatnya dalam keadaan hidup, kemudian Alloh menurunkannya setelah keluarnya Dajjal dan membunuhnya, menghancurkan salib dan membunuh babi, dan agama pada waktu itu hanya satu yaitu agama Alloh Islam.” ( Asyrotus Sa’ah. Wa Dzahabul Akhbar Wa Binau’ Asyror. DR. Sulaiman al-Asyqor. Hal. 136 )

 

Berkata Imam at-Thobari Rohimahulloh :” ketika mentafsirkan surat ali Imron ayat .55. “ Pendapat yang paling benar menurutku adalah pendapat yang menyatakan bahwa ayat tersebut bermakna “Alloh mengangkat Nabi Iasa dari bumi menuju langitNya “ berdasarkan hadits-hadits yang mutawatir dari Nabi Shollallohu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :” Isa bin Maryam sungguh akan turun dab membunuh Dajjal…( Jami’ul Bayan.3/291 )

 

Imam al-Hafidz Ibnu Katsir Rohimahulloh berkata dalam mentafsirkan surat an-Nisa’ : 159 : Hadits-hadits ini telah mencapai derajad mutawatir dari riwayat Abu Huroiroh, Ibnu Mas’ud, Utsman bin Abi Ash, Abu Umamah, Nawwas bin Sam’an, Abdulloh bin Amr Bin Ash, Mujammi’ bin Jariyyah, Abu Sarihah Hudzaifah bin Asid. Rohiallohuanhum Ajmain. ( 2/566 )

 

Imam as-Suyuthi Rohimahulloh menjelaskan bahwa Isa akan turun sebelum wafatnya dan beriman padanya Yahudi, hal ini sebagaimana firman Alloh dalam surat an-Nisa’ . ayat 159 . dan dijelaskan oleh Ibnu Abbas Rodhiallohuanhuma dari ayat qobla mautihi.” ( ad-Darul Mantsur. 3/287 )

 

Imam al-Hafidz Ibnu Katsir Rohimahulloh menjelaskan bahwa Isa akan turun sebelum wafatnya dan tidak ada yang tersisah dari ahlul kitab melainkan akan beriman padanya, hal ini sebagaimana firman Alloh dalam surat an-Nisa’ . ayat 159 . dan dijelaskan oleh Ibnu Abbas Rodhiallohuanhuma dari ayat qobla mautihi.” ( Tafsir Ibnu Katsir. 2/452 )

 

Syaikh Muhammad bin Ja’far al-Kattani berkata dalam Nadhmul Mutanatsir Hal. 147.:” Kesimpulannya, hadits-hadits tentang Mahdi, Dajjal, Isa Mutawatir.” 

 

AQIDAH AHLUSSUNNAH TENTANG TURUNNYA ISA BIN MARYAM.

 

Berkata al-Qodhi Iyadh Rohimahulloh :” turunnya Isa dan pembunuhannya terhadap dajjl adalah haq, dan benar menurut Ahlussunnah berdasarkan hadits-hadits yang shohih tentang masalah tersebut. Tidak ada dalil akal maupun naql yang memustahilkannya. Karenanya, maka aqidah ini wajib ditetapkan. Adapun kaum Mu’tazilah, Jahmiyyah mengingkari keyakinan ini dengan anggapan bahwa hadits ini bertentangan dengan ayat : “ Dan penutup para Nabi “ ( QS. al-Ahzab : 40 ) dan hadits :” Tidak ada Nabi setelahku “. Sungguh ini merupakan istidhlal yang keliru karena tidaklah maksud dari turunnya Isa, dia turun sebagai Nabi baru yang membawa syari’at baru yang bertentangan dengan syari’at kita. Tidak ada satupun hadits yang menjelaskan hal ini.” ( Syarah Muslim. Imam Nawawi. 18/383 )

 

Berkata Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah Rohimahulloh :” Telah banyak hadits-hadits shohih yang menunjukkan bahwa Isa akan turun di atas menara putih sebelah timur Damaskus, berhukum dengan hokum Alloh, membunuh kaum Yahudi dan Nashoro , membebaskan pajak dan menghancurkan seleruh agama selain Islam.” ( Manarul Munif. Hal. 148 )

 

Berkata Imam as-Safarini Rohimahulloh :’ Turunnya Isa bin Maryam telah ditetapkan al-Qur’an , Hadits, Ijma’ Ulama’”. beliau berkata :” Adapun Ijma’ maka umat Islam telah bersepakat tentang turunnya, tidak ada seorangpun yang menyelisihinnya dari kalangan ahlil ilmi, kecuali para ahli filsafat dan penyimpang dari agama yang perselisihan mereka tidak diakui.” ( Lawami’ul Anwar. 2/94-95 )

 

5. MUNCULNYA IMAM MAHDI

 

Rosululloh Shollallohu alaihi wasallam bersabda :” Isa bin Maryam akan turun dan pemimpin mereka al-Mahdi berkata :” Kemarilah, majulah engkau menjadi Imam sholat kami,” lalu Isa berkata :” Tidak , sesungguhnya kalian adalah pemimpin bagi sebagian lainnya. Kemuliyaan Alloh atas umat ini.” ( Harits bin Usamah dalam musnadnya. Berkata Ibnul qoyyim dalam Manarul Munif. Hal. 147-148 . :” sanadnya jayyid dan disetujui oleh Suaikh al-AlBani dalam as-Shohihah No. 2236 )

Berkata Imam Abul Hasan al- Aburry Rohimahulloh :” Telah mutawatir hadits-hadits dari Nabi Shollallohu alaihi wasallam tentang munculnya Mahdi dari keturunannya.” ( Fathul Bari. 6/493/494. al-Urful Wardi. Imam Suyuthi. Hal. 81,83,84. as-Shohihah. 5/372/2293 )

 

Berkata Imam as-Syaukani Rohimahulloh dalam at-Taudhih Fi Tawaturi Maa Jaa’a Fil Muntadhor al-Mahdi Wa Dajjal Wal Masih :” Hadits-hadits tentang Mahdi sepanjang penelitian saya mencapai 50 hadits ada yang shohih, hasan, dho’if yang terkuatkan. Tidak syak lagi dan samara bahwa hadits tersebut mencapai derajat mutawatir bahkan jumlah yang kurang dari itu saja sudah dapat dihukumi mutawatir. Adapun atsar para shohabat yang menrangkan tentang Mahdi, jumlahnya sangat banyak sekali dan marfu’ hukman sampai kepada Nabi. Karena tidak ada ijtihad dalam masalah sepertyi ini.” ( al-Idho’ah lima kana wa mayakunu baina yadai Saa’ah . Hal. 124 Karya Shiddiq Hasan Khon )

 

Berkata Imam as-Safarini Rohimahulloh :” Pendapat yang benar menurut ahlul haq bahwa Mahdi bukanlah Isa dan Mahdi muncul sebelum turunnya Isa. Sungguh telah banyak riwayat –riwayat yang menjelaskan tentang keluarnya Mahdi sehingga mencapai derajat mutawatir maknawy dan telah masyhur perkaranya dikalangan ulama’ sunnah sehingga dikatagorikan dalam masalah aqidah.” ( Lawami’ul Anwar. 2/84 ) 

 

Berkata Syaikh Syaroful Haq Adzim Abadi Rohimahulloh :” Hadits-hadits tentang Mahdi telah dikeluarkan oleh sejumlah imam seperti Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Bazzar, al-Hakim, Thobroni, Abu Ya’la. Dan sejumlah shohabat seperti Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Tholhah, Ibnu Mas’ud, Abu Huroiroh, Anas bin Malik, Abu Sa’id al-Khudri, Ummu Habibah, Ummu Salamah, Tsauban, Qurroh bin Iyas, Ali al-Hilaly, Abdulloh bin Harits bin Jaz’in Rodhiallohuanhum ajma’in. Sanad hadits-hadits tersebut ada yang shohih, hasan, dan dho’if, dan sungguh keterlaluan Imam ahli sejarah Ibnu Khuldun al-Maghribi dalam tarikhnya ketika dia melemahkan seluruh hadits tentang Mahdi.” ( Aunul Ma’bud. 11/243 )

 

Yang terakhir coba kita dengarkan perkataan dan kenyataan yang keji dia seorang iblis berbentuk manusia atau bisa jadi dia sebagai corong iblis laknatulloh alaihi, seorang gembong Mu’tazilah, Amr bin Ubaid berkata. Mu’adz Ibnu Mu’adz ( seorang tabi’in ) pernah berkata :” Saya mendengar Amr bin Ubaid tatkala diceritakan kepadanya sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud, dia berkata :” Seandainya saya mendengar A’masy ( seorang tabi’in ) menceritakannya, sungguh saya akan dustakan, seandainya saya mendengar dari Zaid bin Wahbin, saya tidak akan membenarkannya, seandainya saya mendengar Ibnu Mas’ud yang menceritakannya, saya tidak akan menerimannya, seandainya saya mendengar Rosulullohu Shollallohu alaihi wasallam yang bercerita, saya akan menolaknya. Dan seandainya saya mendengar Alloh yang menceritakannya, saya akan katakana kepadaNya : Bukan atas hal ini , Engkau mengambil perjanjian dengan kami. ( pen. Go to Hell Mu’tazilah dan semisalnya ). ( Mizanul I’tidal . 5/333 dan Siyar A’lamin Nubala’. 6/104 Imam adz-Dzahabi )

 

Wahai Hizbut Tahrir...!!! akal dan ilmu kalian tidak mampu menjangkau kebenaran dan ahlinya, kembalilah, sadarlah, sebelum matahari terbit dari barat masih ada kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada kebenaran, kasihanilah diri kalian dan belum terlambat belajarlah dan carilah ilmu untuk mencari kebenaran.......

 

Berkata syair :

 

يا ناطح الجبل العالي ليكلمه

اشفق على الراس لا تشفق على الجبل

 

“Hai orang yang akan menabrakkan diri ke gunung

Tinggi untuk menghancurkannya....

Kasihanilah kepala anda,

Jangan kasihan pada gunung itu

 

الم تر ان الحق تلقاه ابلجا 

وانك تلقي باطل القول لجلجا

 

“ Tidaklah kau tahu bahwa kebenaran,

Kau terima dengan lapang dada

Dan kau menerima ucapan batil 

Dengan gagap / sesak dada

 

Rosulullohu Shollallohu alaihi wasallam bersabda :” Carilah ilmu, dan dalam mencarinya takutlah dan karena Alloh, dan mencarinya adalah ibadah, dan mempelajarinya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, mengajarkan pada orang yang tidak tahu adalah shodaqoh, dengannya bisa mengenal dan beribadah kepada Alloh, dengannya untuk memuji dan mentauhidkan Alloh, ilmu adalah imamnya amal dan amal mengikutinya, Alloh akan mengangkat suatu kaum dengan ilmu dan menjadikan mereka pemimpin dalam kebaikan dan imam yang diikuti dan puncak atas akal mereka.” ( Fiqih Wal Mutafaqqih, al-Khotib. Hal. 15. Ibnu Abdil Barr. Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi. 268 )

Wallohu A’lam, Washolallohu ala Nabiyyina Muhammad Walhamdulillahirobbil Alamin.



Terakhir Diperbaharui ( Thursday, 26 Safar 1431 16:22 )

Comments (0)
Only registered users can write comments!
 

Kata Mutiara

“Berpeganglah dengan atsar Salafus Shalih meskipun seluruh manusia menolakmu dan jauhilah pendapatnya orang-orang (selain mereka) meskipun mereka menghiasi perkataannya terhadapmu.” (Imam Al-Auza'irahimahullahu - Asy syari’ah : 63)