Cari Artikel

Statistics

Jumlah Kunjungan Konten : 39572

Yang Online

Kami memiliki 11 Tamu online

Login Form

Buat account Untuk dapat mengomentari artikel dan fitur tambahan di uswah.net!



Peta Situs

UswahSko

UswahSko: Sitem Informasi Sekolah

UswahShop

UswahShop
Manhaj Cara atau sikap beragama yang benar
Jangan Sepenuhnya Salahkan Penguasa PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Ilmu Agama - Manhaj
Ditulis oleh Ryan Sofyan   
Share |
Wednesday, 20 Muharram 1431

Pemimpin Yang Dzalim adalah Hadiah dari Allah Subhanahu Wa Ta`ala atas Kedzaliman Suatu Masyarakat.

Jangan Sepenuhnya Salahkan PenguasaAllah Ta`ala berfirman :

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ ﴿١٢٩﴾
Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan. (QS Al An`am:129).
Tentang makna نُوَلِّي yang ada dalam ayat di atas ada empat pendapat ahli tafsir.


Pertama, Kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai kekasih bagi sebagian yang lain. Pendapat ini diriwayatkan oleh Said dari Qotadah

Kedua, Sebagian orang yang zalim itu kami jadikan mengiringi yang lain di neraka disebabkan amal yang mereka lakukan. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ma`mar dari Qotadah.

Ketiga, Kami jadikan orang yang zalim sebagai penguasa bagi yang lain. Pendapat ini diungkapkan oleh Ibnu Zaid.

Keempat, Kami pasrahkan sebagian orang yang zalim kepada yang lain dalam artian tidak kami tolong. Pendapat ini disebutkan oleh al Mawardi.

Sedangkan yang di maksud dengan يَكْسِبُونَ dalam ayat di atas adalah berbagai bentuk maksiat (Zadul Masir fi l `Ilmi Tafsir karya Ibnul Jauzi 3/124, cetakan ketiga Al Maktab Al Islamy tahun 1984/1404). 

Ibnu Asyur mengatakan, 

Ayat tersebut bisa dipahami mencakup seluruh orang yang zalim. Sehingga ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah akan menjadikan seorang yang zalim akan dikuasai dan dizalimi oleh orang selainnya. Inilah penafsiran yang diberikan oleh Abdullah bin Zubair, salah seorang shahabat Nabi, saat beliau berkuasa di Mekkah. 

Ketika Ibnu Zubair mendengar bahwa Abdul Malik bin Marwan membunuh Al Amr bin Said al Asydaq setelah Al Amr memberontak terhadap Abdul Malik, beliau naik ke atas mimbar. Di sana Ibnu Zubair berkata,

”Ketahuilah bahwa Ibnu Zarqaâ -yaitu Abdul Malik bin Marwan. (Marwan diberi gelar Azraq dan Zarqaâ yang berarti biru karena kedua matanya berwarna biru)- telah membunuh Lathim Syaithan (orang yang ditampar oleh setan yaitu Al Amr bin Said) kemudian Ibnu Zubair membaca ayat di atas.

Lathim Syaithon adalah gelar ejekan yang diberikan untuk Amr bin Said disebabkan dua ujung mulutnya tidak simetris. Banyak pihak yang mengatakan bahwa hal itu disebabkan setan pernah menamparnya.

Oleh karena itu, ada orang yang mengatakan bahwa jika orang yang zalim itu tidak menghentikan kezalimannya maka dia akan ditindas oleh orang zalim yang lain. 

Fakhruddin Ar Razi mengatakan, 

“Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim maka hendaklah mereka meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan” (Tafsir At Tahrir wat Tanwir karya Ibnu Asyur 8/74 cetakan Dar Tunisiah 1984).

Dalam Tafsirnya yang sebagiannya telah dikutip oleh Ibnu Asyur di atas, Ar Razi mengatakan, 

“Ayat di atas adalah dalil yang menunjukkan jika rakyat suatu negara itu zalim (baca: gemar maksiat, korupsi dll) maka Allah akan mengangkat untuk mereka penguasa yang zalim semisal mereka. Jika mereka ingin terbebas dari kezaliman penguasa yang zalim maka hendaknya mereka juga meninggalkan kemaksiatan yang mereka lakukan”.

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa :
a. Di tengah-tengah suatu komunitas manusia harus ada yang menjadi penguasa. 
b. Jika Allah tidak membiarkan orang-orang yang zalim tanpa pemimpin meski juga sesama orang yang zalim 
c. Maka tentu Allah tidak akan membiarkan orang-orang shalih tanpa pemimpin yang mendorong rakyatnya agar semakin shaleh.

Ali bin Abi Thalib berkata, 
“Tidaklah baik bagi suatu masyarakat jika tanpa pemimpin, baik dia adalah orang yang shalih ataupun orang yang zalim”
Ada yang menyanggah beliau terkait dengan kalimat “ataupun orang yang zalim”. 
Ali menjelaskan, 
“Memang dengan sebab penguasa yang zalim jalan-jalan terasa aman, rakyat bisa dengan tenang mengerjakan shalat dan berhaji ke Ka`bah.
(Tafsir Al Kabir wa Mafatih Al Ghaib karya Muhammad ar Razi 13/204 cetakan Dar al Fikr 1981/1401).

Sudahkah kita semua bertaubat dan meninggalkan berbagai bentuk maksiat dan kezhaliman hingga Allah datangkan pemimpin yang adil?


Terakhir Diperbaharui ( Wednesday, 20 Muharram 1431 00:48 )

Comments (0)
Only registered users can write comments!
 

Kata Mutiara

Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, "Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat maka dia mendapatkan tiga perkara : - pertama, Allah menjadikan kecukupan dihatinya - yang kedua..., Allah mengumpulkan urusannya - yang ketiga, dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina (dunia datang sendiri kepada kita tanpa perlu kita kejar) dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara : - yang pertama-tama, Allah menjadikan kemelaratan ada didepan mata - yang kedua, Allah mencerai-beraikan urusannya - yang ketiga, dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja" HR. At Tirmidzi dan lain-lain (Hadits Shahih)