uswah.net

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

UswahSko

UswahSko: Sitem Informasi Sekolah

UswahShop

UswahShop

UswahTech IT Solution.

 

UswahTech IT Solutions

Manhaj Cara atau sikap beragama yang benar

MELURUSKAN SEJARAH MU'AWIYYAH RADHIYALLAHU 'ANH

E-mail Cetak PDF
Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Friday, 18 Dzulka'edah 1430

Dalam artikel "Zainab bin 'Ali Saksi Peristiwa Karbala" (Juni 2005) disebutkan bhw Zainab telah menyaksikan pertempuran demi pertempuran yang terpaksa ditempuh ayahnya dalam menentang kaum pemberontak yang dipimpin Mu'awiyyah bin Abu Sufyan, seperti pertempuran di Siffin dan sebagainya…

Dimunculkan pula, sejarah Mu'awiyyah versi Syi‘ah yang amat masyhur. Benarkah Mu'awiyyah bin Abi Sufyan radhiallahu 'anh memimpin kaum pemberontak untuk melawan Amirul Mukminin 'Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anh? Sebelum menjawab persoalan ini, saya ingin jelaskan terlebih dahulu keutamaan Mu'awiyyah. Karena sejak bangku sekolah, kebanyakan kita mengenal beliau sebagai seorang sahabat yang zalim, pendusta, dan pelbagai sifat negatif lainnya. Pandangan ini begitu meluas sehingga jarang kita menemui orangtua yang menamai anaknya dengan “Mu'awiyyah”. Coba bandingkan dengan nama sahabat lain.

KEUTAMAAN MU'AWIYYAH BIN ABI SUFYAN
Mu'awiyyah bin Abi Sufyan adalah salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia. Beliau dilahirkan 15 tahun sebelum peristiwa hijrah. Mengikuti pendapat yang lebih tepat, beliau memeluk Islam selepas Perjanjian Hudaibiyah antara tahun 6 hingga 8 hijriah. Dalam sebuah hadis yang disahihkan oleh al-Albani rahimahullah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendoakan Mu'awiyyah: “Ya Allah! Jadikanlah beliau orang yang memimpin kepada hidayah dan berikanlah kepada beliau hidayah.” [Silsilah al-Ahadits al-Shahihah (Maktabah al-Ma‘arif, Riyadh, 1995, hadis no: 1969)

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya (hadis no 2924) bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Pasukan pertama dari kalangan umatku yang berperang di laut, telah dipastikan bagi mereka (tempat di syurga).” Fakta sejarah mencatat bahwa armada laut pertama umat Islam dipimpin oleh Mu'awiyyah pada zaman pemerintahan Amirul Mukminin Usman ibn Affan radhiallahu 'anh.

Di dalam Shahih Muslim (hadis no 2501), Abu Sufyan pernah meminta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar menjadi juru tulis beliau. Rasulullah memperkenankan permintaan ini. Maka sejak itu Mu'awiyyah menjadi juru tulis al-Qur’an dan surat menyurat Rasulullah, sekaligus menjadi orang yang dipercaya di sisi beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

Mu'awiyyah juga merupakan seorang sahabat yang dihormati para sahabat yang lain. Beliau diangkat menjadi gubernur di Syam semasa pemerintahan Amirul Mukminin 'Umar dan 'Usman radhiyallahu 'anhuma. Pada zaman beliau sendiri, pernah seorang mengadu kepada Ibn Abbas radhiallahu 'anh bahwa Mu'awiyyah melaksanakan shalat witir hanya satu rakaat. Ibn 'Abbas menjawab, “(Biarkanlah!), sesungguhnya dia seorang yang faqih!” (Shahih al-Bukhari, hadis no: 3765)

Demikian beberapa keutamaan Mu'awiyyah yang kami rekam dalam tulisan ini. Maka dapat kita kenali bahwa beliau bukanlah sembarang orang tetapi merupakan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mulia.

PENDIRIAN MU'AWIYYAH TENTANG KEKHALIFAHAN ALI
Ketika Amirul Mukminin Usman ibn Affan radhiallahu 'anh terbunuh, 'Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah pengganti. Beliau dibai‘ah oleh sebagian umat Islam. Sebagian lain yang tidak membai‘ah beliau di antaranya ialah Mu'awiyyah. Hal ini berlaku bukan kerana Mu'awiyyah menafikan kekhalifahan 'Ali, akan tetapi Mu'awiyyah mengkehendaki 'Ali terlebih dahulu menjatuhkan hukuman hudud atas para pembunuh Usman. Al-

Imam Ibn Hazm rahimahullah menerangkan hakikat ini, "Dan tidaklah Mu'awiyyah mengingkari sedikit pun akan keutamaan 'Ali dan hak beliau untuk menjadi khalifah. Namun beliau berijtihad, perlu didahulukan penangkapan atas para penyulut api fitnah dari kalangan pembunuh Usman radhiallahu 'anh DARIPADA urusan bai‘ah. Dan beliau juga berpandangan dirinya paling berhak menuntut darah Usman." (al-Fishal Juz 3 hlm 85)

Di sisi Amirul Mukminin 'Ali bin Abi Thalib, beliau sebenarnya tidak menyengaja membiarkan para pembunuh Usman berkeliar bebas. Malah beliau mengetahui bahwa mereka menyamar diri dan berlindung di tengah-tengah umat serta berpura-pura membai‘ah beliau. Akan tetapi suasana kaum muslimin yang masih berpecah belah amat sukar bagi beliau mengambil tindakan. Sebaliknya jika umat bersatu, mudah baginya mengambil tindakan pada para pembunuh Usman.

PERISTIWA PERANG SIFFIN
Setelah Perang Jamal berakhir, Amirul Mukminin 'Ali bin Abi Thalib mengirim utusan kepada Mu'awiyyah seraya meminta beliau membai'ah dirinya. Mu'awiyyah menolak sambil mengulang tuntutannya agar khalifah mengambil tindakan kepada para pembunuh Usman. Jika tidak, maka Mu'awiyyah sendiri yang akan mengambil tindakan. Mendengar jawaban itu, Amirul Mukminin 'Ali menyiapkan pasukan dan mulai bergerak ke Syam. Skenario ini menyebabkan Mu'awiyyah juga mempersiapkan pasukan dan mulai bergerak ke arah Kufah. Akhirnya, kedua pasukan pun bertemu di satu tempat bernama Siffin, dan mulailah perang yang dikenal dengan nama Perang Siffin.

Para ahli berbeda pendapat, kenapa Amirul Mukminin 'Ali mempersiapkan pasukannya ke arah Syam? Persoalan ini masih memerlukan penelitian mendalam dengan menelaah faktor-faktor eksternal dan internal. Amirul Mukminin 'Ali tidak bermaksud mengambil tindakan apa pun ketika itu kecuali untuk kemaslahatan umat Islam secara seluruhnya. Berkenaan dengan Perang Siffin, kita teringat sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Tidak akan tiba Hari Kiamat hingga dua kelompok umat yang besar saling berperang. Terjadi pembunuhan yang dahsyat antar duanya padahal kedua-duanya menyeru kalimat yang satu (yakni kebaikan Islam dan umatnya).” (Shahih Muslim – hadis no: 157)

MU'AWIYYAH MEMBERONTAK KEPADA ALI?
Kini kita sampai pada persoalan: benarkah Mu'awiyyah memimpin pemberontakan kepada 'Ali bin Abi Thalib? Jawabannya TIDAK. Ini karena, jika dikatakan seseorang memberontak kepada pemimpinnya, niscaya para pemberontak itulah yang memulai bergerak ke arah pemimpin. Namun dalam peristiwa itu, Mu'awiyyah tidak bergerak ke arah Amirul Mukminin 'Ali sekalipun Mu'awiyyah enggan membai‘ah ''Ali. Beliau hanya berdiam diri di Syam tanpa memulai tindakan ketentaraan apa pun.

Syaikh Muhibbuddin al-Khatib rahimahullah (1389 H) menjelaskan, “…lalu 'Ali berangkat meninggalkan Kufah menuju permulaan jalan yang menuju ke arah Syam dari Iraq. ''Ali mengisyaratkan supaya orang banyak tetap tinggal di Kufah dan hanya mengirim sebagian ke Syam. (Namun) sampai berita kepada Mu'awiyyah bahwa 'Ali telah mempersiapkan pasukannya dan bahwa 'Ali telah keluar untuk memerangi beliau. Maka para pembesar Syam mengisyaratkan kepada Mu'awiyyah agar beliau keluar (untuk menghadapi pasukan 'Ali). Lalu orang-orang Syam pun berangkat menuju Sungai Furat melalui Siffin dan 'Ali maju bersama pasukannya menuju Siffin juga. …Seandainya 'Ali tidak mempersiapkan pasukan bergerak dari Kufah niscaya Mu'awiyyah pun tidak akan bergerak (dari Syam).” (catatan kaki al-‘Awashim min al-Qawashim, hlm 166 & 168)

Dalam perkara ini terdapat sebuah hadis yang lazim dijadikan alasan melabel Mu'awiyyah sebagai pemberontak. Hadis tersebut diriwayatkan al-Imam Muslim dalam kitab Shahihnya (hadis no: 2916) di mana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada ‘Ammar bin Yasir radhiallahu 'anh, “Engkau akan dibunuh oleh kelompok pemberontak.” Dalam Perang Siffin, ‘Ammar berada di pasukan 'Ali dan beliau terbunuh dalam peperangan tersebut. Lalu Mu'awiyyah digelari sebagai pemberontak karena pasukan beliaulah yang memerangi 'Ali sehingga menyebabkan ‘Ammar terbunuh.

Sebenarnya sungguh tidak tepat menggunakan hadis di atas untuk melabel Mu'awiyyah sebagai pemberontak. Argumentasinya ialah:
(1) Sejak awal para sahabat mengetahui bahawa ‘Ammar bin Yasir berada di pasukan Amirul Mukminin 'Ali. Maka siapa yang memerangi 'Ali, niscaya mereka adalah para pemberontak. Akan tetapi fakta sejarah mencatat bahwa banyak para sahabat menarik diri dari mengikuti Perang Siffin. Jika mereka memandang pasukan Mu'awiyyah sebagai pemberontak, niscaya mereka tidak akan absen untuk berperang dan tanpa ragu akan bersama dalam pasukan 'Ali. Sikap mereka yang mengecualikan diri ini menunjukkan bahwa mereka tidak memandang Mu'awiyyah sebagai pihak yang memberontak. Perlu diketahui bahwa hadis yang meramalkan pembunuhan ‘Ammar bin Yasir oleh kelompok pembangkang adalah hadis mutawatir yang diriwayatkan lebih dari 20 orang sahabat. (Qathf al-Azhar al-Mutanatsirah fi al-Akhbar al-Mutawatirah, al-Imam al-Suyuthi/911H, al-Maktab al-Islami, Beirut, 1985, hadis no: 104)

(2) Amirul Mukminin 'Ali juga mengetahui bahwa ‘Ammar bin Yasir berada dalam pasukannya. Akan tetapi 'Ali mengakhiri Perang Siffin melalui perdamaian yang disebut sebagai peristiwa Tahkim. Seandainya 'Ali memandang Mu'awiyyah sebagai pemberontak, nescaya beliau tidak akan melakukan upaya perdamaian dengan Mu'awiyyah.

(3) Tatkala Amirul Mukminin 'Ali terbunuh, jabatan khalifah diserahkan kepada anaknya, Hasan bin 'Ali radhiallahu 'anhuma. Tidak berapa lama selepas itu, Hasan menyerahkan jabatan khalifah kepada Mu'awiyyah. Padahal Hasan juga mengetahui bahwa ‘Ammar bin Yasir telah terbunuh dalam Perang Siffin. Jika Hasan memandang Mu'awiyyah sebagai pemberontak, nescaya beliau tidak akan menyerahkan kekhalifahan kepada Mu'awiyyah. Namun Hasan tetap menyerahkannya sekaligus menunjukkan bahwa beliau tidak memandang Mu'awiyyah sebagai pemberontak.

Wal hasil, semua ini membawa pada pertanyaan selanjutnya, siapakah sebenarnya yang dimaksud sebagai “kelompok pemberontak”? Kelompok pemberontak tersebut ternyata bukanlah pasukan Mu'awiyyah maupun Amirul Mukminin 'Ali, tetapi orang-orang yang pada asalnya menyebabkan terjadinya peperangan antara Mu'awiyyah dan 'Ali. Mereka adalah kelompok pemberontak yang asalnya memberontak kepada Amirul Mukminin Usman ibn Affan sehingga menyebabkan terbunuhnya beliau. Diingatkan bahwa sekalipun pada zahirnya peperangan terjadi di antara para sahabat, faktor yang menggerakkannya tetaplah para pemberontak yang terlibat dalam pembunuhan Usman.

Syaikh Mubibuddin al-Khatib rahimahullahu ta'ala menjelaskan hakikat ini, “Sesungguhnya orang yang membunuh orang Islam dengan tangan kaum Muslimin setelah terjadinya pembunuhan Usman, maka dosanya berada di atas para pembunuh Usman karena mereka adalah pembuka pintu fitnah dan merekalah yang menyalakan apinya. Mereka menipu sebagian hati kaum muslimin dengan sebagian yang lain. Maka sebagaimana mereka membunuh Usman, mereka juga membunuh setiap orang yang mati selepas Usman, di antaranya seperti ‘Ammar dan orang yang lebih utama daripada ‘Ammar yaitu Thalhah (bin Ubaidillah) dan Zubair (bin 'Awwam), sehingga fitnah berujung dengan terbunuhnya 'Ali. …Segala sesuatu yang terjadi karena fitnah, maka yang menanggungnya adalah orang yang menyalakan api karena merekalah penyebab pertama. Mereka itulah “kelompok pembangkang” yang membunuh, yang menyebabkan setiap pembunuhan dalam Perang Jamal dan Perang Siffin, dan perpecahan yang berlaku selepas dua peperangan tersebut.” (catatan kaki al-‘Awashim min al-Qawashim, hlm 173)

KEBENARAN TETAP BERSAMA PEMIMPIN.
Sekalipun dikatakan bahwa Mu'awiyyah bukan pemberontak, tidaklah berarti Mu'awiyyah berada di pihak yang benar. Dalam Islam, apabila wujud perbedaan pendapat antara pemimpin dan selain pemimpin, maka kebenaran terletak bersama pemimpin. Hendaklah mereka yang menyelisihi pemimpin tetap bersama pemimpin dan berbincang dengan beliau terhadap apa yang diperselisihkan. Dalam peristiwa yang membawa pada Perang Siffin, pemimpin saat itu ialah Amirul Mukminin 'Ali. Maka sikap yang lebih tepat bagi Mu'awiyyah ialah tidak meletakkan syarat untuk membai‘ah 'Ali, sebaliknya terus membai‘ah beliau dan kemudian berbincang dengan beliau tentang cara terbaik untuk mengambil tindakan terhadap para pembunuh Amirul Mukminin Usman bin 'Affan radhiyallahu 'anh.

PENEGASAN SYAIKHUL ISLAM IBN TAIMIYYAH RAHIMAHULLAH
“Dan Mu'awiyyah bukanlah dari kalangan mereka yang memilih untuk memulai perang, bahkan beliau dari kalangan yang paling menghendaki agar tak terjadi perang. …(Namun) yang benar ialah tidak berlakunya peperangan, yakni meninggalkan peperangan adalah lebih baik bagi kedua pihak. Tidaklah dalam peperangan tersebut (Perang Siffin) terlihat pihak yang benar (secara hakiki). Akan tetapi 'Ali lebih mendekati kebenaran dibanding Mu'awiyyah. Peperangan adalah peperangan karena fitnah, tidak ada yang wajib dan tidak ada yang sunah. Dan meninggalkan perang adalah lebih baik bagi kedua pihak. Hanya saja 'Ali adalah lebih benar. Dan ini merupakan pendapat (al-Imam) Ahmad dan kebanyakan ahli hadis juga kebanyakan para imam fiqh. Dan ini juga merupakan pendapat para tokoh sahabat dan tabi’in yang selalu mendapat kebaikan.” (Minhaj al-Sunnah, juz. 4, hlm 447-448)

Wallahu ta'ala a'lam bish shawwab
Disadur dari tulisan Al-Ustadz Hafiz Firdaus Abdullah hafizhahullah

Comments (0)
Only registered users can write comments!
You are here: Manhaj MELURUSKAN SEJARAH MU'AWIYYAH RADHIYALLAHU 'ANH