uswah.net

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

UswahSko

UswahSko: Sitem Informasi Sekolah

UswahShop

UswahShop

UswahTech IT Solution.

 

UswahTech IT Solutions

Fiqih dan Ibadah

Antara Kita Dan Hawa Nafsu

E-mail Cetak PDF
Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Tuesday, 06 Dzulhijjah 1430

FIKIH NASEHAT
Oleh Al-Al-Ustadz Fariq Gasim Anuz


Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al-Mu'allimi Al-Yamani rahimahullah (wafat tahun 1386 H) berkata dalam bukunya Al-Qaid ila Tashih Al- Aqaid, "Seorang muslim haruslah berfikir dan menginstropeksi diri terhadap hawa nafsunya.
Antara Kita Dan Hawa Nafsu
Misalkan sampai berita kepadamu bahwa seseorang telah mencaci maki Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, kemudian orang lain lagi mencaci maki Nabi Daud 'alaihis salam, sedangkan orang yang ketiga mencaci maki Umar radhiallahu 'anhu atau Ali radhiallahu 'anhu, dan orang yang keempat mencaci maki gurumu, adapun orang yang kelima mencaci maki guru orang lain. Apakah kemarahan dan usahamu untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada mereka sesuai dengan ketentuan syari'at? Yaitu kemarahanmu kepada orang pertama dan kedua hampir sama, tetapi jika dibandingkan kepada yang lainnya harus lebih keras. Kemarahanmu kepada orang ketiga lebih lunak dari yang awal, akan tetapi harus lebih keras dari yang sesudahnya. Kemarahanmu kepada orang yang keempat dan kelima hampir sama, akan tetapi jauh lebih lunak dibandingkan dengan yang lainnya?

Misalkan pula engkau membaca sebuah ayat, maka nampak bagimu bahwa pemahaman dari ayat tersebut sesuai dengan ucapan Imammu, kemudian engkau membaca ayat yang lain dan nampak olehmu dari ayat tersebut, suatu pemahaman yang menyalahi ucapan lainnya dari Imammu tersebut. Apakah penilaianmu mengenai keduanya sama? Yaitu engkau tidak peduli untuk mencari kejelasan dari dua ayat tersebut dengan mengkajinya secara seksama agar menjadi jelas benar atau tidaknya pemahamanmu tadi dengan cara membaca sepintas?

Misalkan engkau mendapatkan dua hadits di mana engkau tidak mengetahui shahih atau dhaifnya, yang satu sesuai dengan pendapat imammu, yang satu lagi menyalahinya, apakah pandanganmu terhadap dua hadits itu sama (dengan imammu), tanpa engkau peduli (untuk mengetahui secara ilmiah) apakah kedua hadits tersebut shahih atau dhaif.

Misalkan engkau memperhatikan suatu masalah, di mana Imammu mempunyai suatu pendapat, dan (ulama) yang lain menyalahi pendapat tersebut, apakah hawa nafsumu yang lebih berperan dalam mentarjih salah satu dari dua pendapat tadi, ataukah engkau menelitinya supaya engkau dapat mengetahui mana yang lebih rajih (kuat) dari keduanya sehingga engkau dapat menjelaskan kerajihannya tersebut? 1) Misalkan ada seorang yang engkau cintai, dan seorang yang lain engkau membencinya, keduanya berselisih dalam suatu masalah. Kemudian engkau dimintai (oleh orang lain) pendapatmu tentang perselisihan tersebut, padahal engkau tidak mengetahui duduk persoalannya sehingga engkau tidak dapat menghukuminya, dan engkau ingin meneliti permasalahan tersebut, apakah hawa nafsumu yang berperan sehingga engkau memihak orang yang engkau cintai?
Misalkan ada tiga fatwa dari tiga ulama dalam dalam permasalahan yang berbeda. Satu darimu, fatwa yang kedua dari orang yang engkau cintai, dan fatwa yang ketiga dari orang yang engkau tidak sukai, dan setelah engkau teliti kedua fatwa temanmu tersebut, maka engkau nilai keduanya benar pula, kemudian sampai kepadamu berita ada seorang alim lain yang mengkritik salah satu dari ketiga fatwa tersebut, dan mengingkarinya dengan sangat keras, apakah engkau mempunyai sikap yang sama apabila fatwa yang dikritik itu fatwamu, atau fatwa sahabatmu, atau fatwa orang yang engkau tidak sukai?

Misalkan engkau mengetahui seseorang berbuat kemungkaran, dan engkau berhalangan untuk mengingkarinya, kemudian sampai berita kepadamu ada seorang ahli ilmu yang mengingkari orang tersebut dengan kerasnya, maka apakah anggapan baikmu itu sama apabila yang mengingkari itu temanmu atau musuhmu, begitu pula apabila orang yang diingkarinya itu temanmu atau musuhmu?

Periksalah dirimu, engkau dapatkan dirimu sendiri ditimpa musibah dengan perbuatan maksiat atau kekurangan dalam hal dien, dan engkau dapatkan orang yang engkau benci ditimpa musibah dengan melakukan maksiat pula dan kekurangan lainnya dalam syariat yang tidak lebih berat dari musibah yang menimpamu. Maka apakah engkau dapati kebencianmu kepada orang tersebut (disebabkan maksiat atau kekurangan dalam syari'at, pent) sama dengan kebencianmu kepada dirimu sendiri, dan apakah engkau dapatkan marahmu kepada dirimu sendiri sama dengan marahmu kepadanya?

Kesimpulannya, pintu-pintu hawa nafsu tidak terhitung banyaknya, dan hal ini saya mempunyai pengalaman pribadi ketika saya memperhatikan satu permasalahan yang saya anggap bahwa hawa nafsuku tidak ikut campur dalam masalah ini. Tampak bagiku dalam masalah tersebut satu pengertian, maka saya menetapkannya dengan satu ketetapan yang saya kagumi, kemudian setelah itu tampak bagiku sesuatu yang membuat cacat ketetapan tadi, maka saya dapati diri saya gigih mempertahankan kesalahan tadi dan jiwaku menyuruhku untuk memberikan pembelaan, dan menutup mata, menolak untuk mengadakan penelitian lebih lanjut secara mendalam. Hal ini dikarenakan ketika saya menetapkan pengertian pertama yang saya kagumi, setelah itu hawa nafsu saya condong untuk membenarkannya. Padahal hal ini belum ada satu orang pun yang mengetahuinya, maka bagaimana seandainya hal tersebut sudah saya sebarluaskan ke khalayak ramai, kemudian setelah itu nampak bagiku bahwa pengertian tersebut salah? Maka bagaimana pula apabila kesalahan itu bukan saya sendiri yang mengetahuinya melainkan orang lain yang mengkritikku ? Bagaimana pula jika orang yang mengkritik tersebut adalah orang yang aku benci?

Hal ini bukan berarti seorang alim dituntut untuk tidak mempunyai hawa nafsu, karena ini di luar kemampuannya, tetapi kewajiban seorang alim untuk mengoreksi diri dari hawa nafsunya supaya dia mengetahui kemudian mengekangnya, dan memperhatikan dengan seksama dalam hal kebenaran sebagai suatu kebenaran, apabila jelas baginya bahwa kebenaran itu menyalahi hawa nafsunya, maka dia harus mengutamakan kebenaran daripada mengikuti hawa nafsunya. Dan ini -wallahu a'lam- makna hadits yang disebutkan oleh An-Nawawi dalam Al-Arba'in dan beliau menyebutkan sanadnya shahih2) , yaitu:

"Tidaklah seorang di antara kalian beriman (dengan sempurna) sehingga menjadikan hawa nafsunya mengikuti kepada apa-apa yang datang dariku."

Dan seorang alim kadang lalai dalam mengawasi hawa nafsunya. Ia bersikap toleran sehingga dirinya condong kepada kebatilan dan membela kebatilan tersebut, dan dia menyangka bahwa dirinya belum menyimpang dari kebenaran dan dia menyangka pula bahwa dirinya tidak sedang memusuhi kebenaran, dan ini hampir tidak ada orang yang selamat dari perbuatan ini, kecuali orang yang dipelihara oleh Allah Subhana wa Ta'ala. Hanya saja para ulama bertingkat-tingkat dalam sikapnya terhadap hawa nafsu, di antara mereka ada yang sering terbawa arus hawa nafsunya sampai kelewatan menjadikan orang yangtidak mengetahui tabiat manusia dan pengaruh hawa nafsu yang demikian besar menyangka bahwa si alim tadi melakukan kesalahan yang fatal dengan sengaja.

Di antara ulama juga ada orang yang dapat mengerem hawa nafsunya sehingga sedikit sekali mengikuti hawa nafsunya.Barangsiapa yang sering membaca buku-buku dari para penulis yang sama sekali tidak menyandarkan ijtihad mereka kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka dia akan mendapatkan keajaiban yang banyak. Hal ini susah untuk diketahui, kecuali oleh orang-orang yang hawa nafsunya tidak condong kepada buku-buku tersebut, bahkan condong kepada kebenaran yang bertentangan dengan buku-buku tersebut, karena kalau hawa nafsunya condong kepada buku-buku tersebut dan sudah dikuasai hawa nafsunya, dia menyangka bahwa orang-orang yang sependapat dengan dia itu bersih dari mengikuti hawa nafsu, bahkan orang-orang yang bertentangan dengan dia, merekalah yang mengikuti hawa nafsu.

Dan orang salaf dahulu ada yang berlebih-lebihan dalam mengerem hawa nafsunya, sampai ia terjerumus dalam kesalahan dari sisi yang lain, seperti seorang hakim yang mengadili dua orang yang berselisih, orang yang pertama adalah saudara kandungnya dan orang yang kedua adalah musuhnya, maka dia berlebih-lebihan dalam mengerem hawa nafsunya sampai dia menzalimi saudara kandungnya sendiri. Orang seperti ini seperti orang yang berjalan di tebing yang curam, kanan kirinya jurang, karena dia menghindar dari jurang yang berada di sebelah kanannya, dia menjauh darinya, tetapi berlebihan sampai dia terjatuh ke jurang yang berada di sebelah kirinya!" 3) Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata mengenai dua orang yang sedang bermusuhan : "Dan betapa banyak orang yang meyakini bahwa dia itu terzalimi dan dalam pihak yang benar dalam segala sisi, padahal tidak begitu sebenarnya. Sesungguhnya dia di pihak yang benar dalam satu sisi dan di sisi yang lain dia juga memiliki kesalahan dan melakukan kezaliman, sedangkan lawannya di samping memiliki kesalahan dan melakukan kezaliman di sisi yang lain memiliki kebenaran dan berlaku adil, tetapi cintamu kepada sesuatu yang membuat engkau menjadi buta dan tuli.

Dan manusia pada umumnya mempunyai tabiat cinta kepada dirinya sendiri, yang dia lihat hanya kebaikannya saja. Dia benci kepada lawannya, yang dia lihat hanya keburukannya saja, bahkan apabila cintanya kepada diri sendiri semakin besar sampai kepada tingkatan melihat keburukannnya sebagai kebaikan, sebagaimana Allah Subhana wa Ta'ala berfirman: "Maka apakah orang yang dihiasi baginya akan keburukan amalnya, maka dia meyakininya sebagai perbuatan baik (sama dengan orang yang tidak tertipu?). Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa-siapa yang Dia kehendaki, dan memberi hidayah kepada siapa-siapa yang Dia kehendaki, maka janganlah dirimu menyesali mereka dan menjadi sedih. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (Surat Faathir: 8)

Dan kadang semakin besar kebencian kepada lawannya sampai kepada tingkatan ketika melihat kebaikan lawannya, ia nilai sebagai keburukan, sebagaimana dikatakan:"Mereka melihat dengan mata permusuhan, kalau saja mata tersebut mata keridhaan, tentu mereka akan menanggap baik apa yang tadinya mereka anggap buruk"

Perbuatan bodoh ini umumnya dibarengi dengan hawa nafsu dan kezaliman, karena sesungguhya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh." 4) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, "Dan perselisihan menurut apa yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an ada dua macam. Salah satu di antaranya, kedua pihak yang berselisih tercela semuanya, sebagaimana dalam firmanNya:

"Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.
Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu." (Surat Hud: 118-119)

Maka Allah menjadikan orang-orang yang mendapat rahmat adalah orang- orang yang tidak ikut perselisihan. Dan begitu pula firman Allah Ta'ala, "Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al-Kitab dengan membawa kebenaran, dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al-Kitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh." (Surat Al-Baqarah: 176) . Dan begitu pula firmanNya, "Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab (maksudnya Kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur'an), kecuali sesudah pengetahuan datang kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka..." (Surat Ali Imran: 2)

Dan firmanNya, "Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang telah bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat." (Surat Ali Imran: 105)

Dan firmanNya, "Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, tiada ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka." (Surat Al-An'aam: 159)

Dan begitu pula Allah mensifatkan perselisihan di antara orang-orang Nashara dengan firmanNya, "Dan di antara orang-orang yang mengatakan, 'Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani', ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya, maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan." (Surat Al-Maidah: 14)

Dan Allah mensifatkan perselisihan di antara orang-orang Yahudi dengan firmanNya, "Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan." (Surat Al-Maidah: 64)

Dan Allah berfirman, "Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa perpecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)." (Surat Al-Mu'minun: 53)

Begitu pula Nabi shalallahu 'alaihi wasallam ketika mensifatkan bahwa ummat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, beliau shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semuanya di neraka kecuali satu golongan, dia itu adalah Al-Jama'ah." 5)

Dan dalam riwayat yang lain: "Siapa-siapa yang meniti jalan seperti jalan yang aku tempuh pada hari ini dan jalan yang ditempuh oleh para sahabatku." 6) Maka beliau shalallahu 'alaihi wasallam menjelaskan bahwa umumnya orang-orang yang berselisih itu mereka binasa semua dari kedua belah pihak, kecuali satu golongan yang selamat dan mereka itu adalah Ahlu Sunnah wal Jama'ah. Dan perselisihan yang tercela dari kedua belah pihak ini penyebabnya adalah kadang-kadang rusaknya niat yang terdapat dalam diri-diri manusia berupa kedengkian dan hasad, keinginan menyombongkan diri di muka bumi, dan yang semisalnya. Maka dia suka mencela ucapan orang lain, atau perbuatannya atau ingin di atas yang lainnya sehingga menjadi kesohor, atau suka ucapan orang yang cocok dengannya, baik dalam masalah nasab, madzhab, tanah air atau teman dan yang semisalnya, di mana dengan tegaknya ucapan dia akan mendapatkan kemuliaan dan kepemimpinan. Hal seperti ini banyak terjadi pada diri manusia. Dan ini merupakan kezaliman.

Dan kadang-kadang penyebabnya adalah bodohnya orang-orang yang berselisih dengan hakekat permasalahan yang kedua belah pihak berselisih di dalamnya, atau bodohnya satu pihak terhadap dalil yang dipakai oleh pihak yang lain, atau bodohnya salah satu pihak akan kebenaran yang terdapat di pihak yang lain, baik dalam masalah hukum atau dalil, meskipun ia mengetahui kebenaran yang ada pada dirinya, berupa hukum dan dalil. Dan memang kebodohan dan kezaliman itu, keduanya merupakan pokok dari segala kejahatan, sebagaimana firman Allah Subhana wa Ta'ala: "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat (yang dimaksud adalah tugas-tugas keagamaan) kepada langit-langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesunguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh." (Surat Al-Ahzaab: 72)" 7)


Footnote:
1. Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid berkomentar atas ucapan Syaikh Abdurrahman Al-Mu'allini rahimahullah di atas: "Janganlah sekali-sekali mencari yang rajih bagi salah satu dari dua pendapat tadi semata-mata karena orang yang mengucapkannya adalah orang yang engkau kagumi. Ini adalah perbuatan muqallidin yang jumud. Hati-hatilah kamu, jangan seperti mereka! Dan merupakan karunia Allah Subhana wa Ta'ala, banyak dari umat ini yang telah meninggalkan ta'ashub (fanatik) madzhab!!! Akan tetapi datang penggantinya yang lebih dahsyat dan lebih memilukan, yaitu ta'ashub hizbi (golongan) Kami memohon pertolongan kepada Allah! Dan tidak ada kekuatan, kecuali dengan pertolonganNya." (Dari buku kecil Maa Laa Yasa'u Al-Muslimu Jahluhu min Dharuriyyaat At-Tafakkur oleh Al-Allaamah Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al-Mu'allimi Al-Yamani rahimahullah, hal. 40-41, catatan kaki no. 1)
2 Hadits ini didhaifkan oleh beberapa ulama, di antaranya:
• Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mendhaifkan hadits ini dan menjelaskan secara terperinci sebab-sebab dhaifnya dalam kitabnya Jami'ul Ulum wal Hikam hadits no. 41
• Al-Qasim Ibnu Asakir rahimahullah dalam kitabnya yang masih dalam manuskrip Thuruq Al-Arba'in (Qaaf 59/2), sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam takhrij kitab As-Sunnah oleh Al-Hafizh Ibnu Abi 'Ashim (wafat tahun 287 H), juz I hal. 13.
• Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani sebagaimana beliau sebutkan dalam tulisan-tulisannya, seperti ta'liq kitab At-Tankiil juz I hal. 198, atau dalam tahqiq kitab Misykatul Mashaabih oleh Muhaddits abad ke-8 hijriyah Muhammad bin Abdillah Al-Khatib At-Tibrizi rahimahullah, juz I hal. 59 no. hadits 167, dan takhrij kitab As-Sunnah oleh Ibnu Abi 'Ashim, juz I hal. 12.
• Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali dalam kitab Iiqadzul Himam al Muntaqa Jami'ul Ulum wal Hikam. Beliau tidak memasukkan syarah hadits ini dalam buku tersebut, dan menyebutkannya sebagai hadits dhaif (hal. 20)
• Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid menyatakan bahwa hadits ini dhaif dalam ta'liq buku Maa Laa Yasa'u Al-Muslimu Jahluhu hal. 43
3 Dari buku At Tankiil bagian keempat Al Qaaid ila Tashih Al Aqaa'id, hal. 196-198
4 Ighatsatul Lahafan min Masyahidisy Syaithan Juz 2 hal. 193
5 Lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 204
6 lihat buku Dar'ul irhyab an Hadits maa ana 'alaihi wa ashaab oleh
7 Syaikh Salim Al-Hilali
8 Dari kitab Iqtidhaus Shiratil Mustaqim, juz I hal. 130-132


"Semua kebaikan berada pada mengikuti orang-orang yang telah lalu (Shahabat), dan semua kejelekan berada pada mengikuti kebid'ahan "
"Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.
Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu." (Surat Hud: 118-119)


Terakhir Diperbaharui ( Tuesday, 06 Dzulhijjah 1430 14:54 )
Comments (0)
Only registered users can write comments!
You are here: Fiqih dan Ibadah Antara Kita Dan Hawa Nafsu