|
Wednesday, 06 Muharram 1431 Syarat Laa Ilaha Illallah
Penyusun :Ahmad Jacob Zurmanda
Bismillah, alhamdulilah wash shalatu was salaamu ‘ala rasulillah, wa ba’du….
tidak tersembunyi bagi manusia yang beriman, bahwa perkara TAUHID adalah perkara terbesar dan senantiasa demikian dalam detak jantung dan deru nafasnya seiring dengan habisnya waktunya di dunia ini…..
akan tetapi, banyak kaum muslimin pada hari ini, bahkan yang -walhamdulillah- sudah mengetahui mengenai hidayah salafiyyah ini, belum mengetahui akan syarat2 dan rukun2 yang mesti dipenuhi dalam mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH, kalimat yang besar, agung lagi bernilai bagi seorang hamba jika dia bis mengucapkannya dengan memenuhi syaratnya dan rukunnya….
ada diantara mereka (kaum muslimin saudara2 kita tsb) hanya mengetahui sebagiannya, atau malah tidak mengetahuinya sama sekali, dan mereka beragama sebagaimana beragama bapak2 mereka… dan bisa jadi diri kita sendiri beragama hanya menurut kebiasaan sebagaimana bapak2 kita, atau kyai2 kita, atau bahkan ustadz2 kita…..
padahal diantara kewajiban yang dibebankan kepada kita oleh ALlah adalah pertama : ILMU yaitu mengenal Allah, mengenal RasulNya dan mengenal agama islam dengan DALIL2nya….
cukup menjadi tanda kelalaian seorang hamba akan tujuan penciptaannya jika ia tidak mengetahui syarat dan rukun kalimat agung ini…”LAA ILAAHA ILLALLAH”….
jika ia tidak mengetahuinya, bagaimana dia kan mengamalkannya? jika ia tidak mengetahuinya, bagaimana dia kan menjauhi pembatal dan pengotornya? jika ia tidak mengetahuinya, bagaimana dia kan merenungkan syarat dan rukunnya? jika ia tidak mengetahuinya, bagaimana dia kan mengajarkan pada anak dan istrinya, keluarganya, orang yang dicintainya..?
SYARAT LAA ILAAHA ILLALLAH
jika kita ditanya : apa saja syarat LAA ILAAHA ILLALLAH?
maka jawabnya : ada TUJUH. .AL ‘ILMU, AL YAQIN, AL QABUL, ALINQIYAD, ASH SHIDQU, AL IKHLASH dan AL MAHABBAH…..
PERTAMA : AL ‘ILMU dalilnya : “maka ilmuilah bahwa LAA ILAAHA ILLALLAH..” (Muhammmad 7) maksudnya adalah mengilmui maknanya dan apa yang ditunjukkannya yaitu “TIADA SESEMBAHAN YANG BENAR KECUALI ALLAH”, HARUS ilmu dengan pengilmuan yang sesuai hakekatnya, mengetahui dalilnya, bukan juga zhann apalagi tingkatan dibawahnya (syak, wahm, jahl).
dan bukan mengilmui dengan makna2 batil dan salah kaprah seperti “tidak ada tuhan selain Allah”, ini batil karena kenyataan nya banyak tuhan selain Allah misal malaikat, nabi, pohon, wali, kyai dll, dan ini hanya mengesakan dalam rububiyyah saja, dan tidak bermanfaat hal ini bagi seorang hamba sedikitpun, sampai ia mentauhidkanNya dalam uluhiyyah juga..
atau “tidak ada hukum kecuali hukum Allah” ini batil karena menyempitkan makna ibadah pada masalah berhukum saja..seandainya orang berbuat syirik dalam nadzar, akan tetapi ia berhukum dengan hukum Allah menurut mereka, maka ia tidak syirik berdasar pemahaman ini..
KEDUA : AL YAQIN dalilnya : “hanyalah orang beriman yaitu yang beriman pada Allah dan RasulNya lalu dia tidak ragu……” maksudnya adalah meyakini maksud yang ditunjukkan kalimat ini, yaqin yang menafikan keraguan. barangsiapa yang dia mengucapkannya, tetapi ia ragu , gojag gajeg, bimbang, gamang, akan maksudnya maka kalimat ini tidak bisa bermanfaat baginya..
KETIGA : AL QABUUL dalilnya : “sesungguhnya jika dikatakan pada mereka dulu : Laailaaha illallah, mereka sombong, dan berkata “apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?” maksudnya adalah menerima kalimat ini dan apa yang ditunjukkannya dari makna dan konsekuensinya, penerimaan yang menafikan penolakan. jika seorang ilmu, yakin namun tidak terima akan berhukum kepada hukum Allah, atau ia tidak terima akan batilnya agama selain islam, maka tidak bermanfaat kalimat ini..
KEEMPAT: AL-INQIYAD (TUNDUK) dalilnya : “dan barangsiapa menyerahkan wajahnya (tunduk) kepada Allah dan ia berbuat ihsan, maka sungguh ia telah berpegang pada buhul tali yang sangat kokoh“ maksudnya adalah tunduk dengan anggota badannya kepada apa yang dikandung oleh kalimat ini dengan menunaikan hak2nya, serta syariat islam ini, ketundukan yang menafikan sikap meninggalkan, acuh, masa bodoh, Emang Gue Pikirin dll. barangsiapa mengilmui, yakin namun ia tidak tunduk kepada syariatnya dan tidak beramal kecuali sebatas yang sesuai seleranya dan bertindak acuh terhadap apa yang ditunjukkan kalimat ini maka tidak bermanfaat kalimat ini..
KELIMA : ASH SHIDQU dalilnya : “alif laam miim, apakah manusia menyangka mereka akan dibiarkan saja sedang mereka tidak diuji? sungguh benar2 kami telah uji orang sebelum mereka, maka Allah mengetahui mana yang jujur dan mana yang dusta“ maksudnya ia mengucapkan dengan jujur dari hatinya, dan hatinya membenarkan lisannya..inilah mengapa bagi orang munafiq, kalimat ini tidak bermanfaat bagi mereka, karena mereka mengucapkannya ini karena riya’ dan dala rangka mendapat keuntungan duniawi…
KEENAM : AL IKHLAS dalilnya : “maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan bagiNya agama ini.“ maksudnya ia mengucapkannya karena ikhlas mengharap wajah Allah, bukan karena dunia, atau takut dari perkara duniawi, dll…
KETUJUH : AL MAHABBAH dalilnya : “dan diantara menusia ada yang menjadikan tandingan bagi Allah dan mereka mencintainya seperti mencintai ALlah, dan orang beriman sangat cintanya kepada Allah..” maksudnya ia mencintai apa yang ditunjukkan oleh kalimat ini, mencintai karenanya, juga du’at2/ penyeru2nya, dan orang mereka yang beramal dan beriltizam dengan kalimat ini dan memusuhi karenanya, juga penyeru kepada selain kalimat ini dan pasukan2nya…..
PENUTUP semestinyalah diri ini senantiasa khawatir apakah sudah benar atau belum pemahaman dan pengamalan kita tentang Laa ilaaha illallah kita ini….. karena orang beriman itu mereka beriman, beramal shalih, NAMUN MEREKA TAKUT KALAU2 TIDAK DITERIMA amal itu… dan senantiasa kita sendiri mesti introspeksi diri kedalam, sudah benarkah LAA ILAAHA ILLALLAH ku? sudahkah anda hapalkan benar2 syarat2 ini sebagai bekal perenungan sepanjang perjalanan hidup anda yang kian habis? hanya Allah kemudian anda yang tahu jawabannya….
“Allahumma inni a’uudzubika min an usyrika bika wa ana a’lamu, wa as taghfiruka limaa laa a’lamu..” (Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari syirik yang aku tidak tahu, dan aku mohon ampun atas apa yang aku tahu)
wallahu a’lam washallallahu ‘ala muhammadin wa ‘alaa aalihi ashhaabihi ajma’in, walhamdulilah rabbil ‘alamin
Ahmad (sumber : makalah “Al Aqiidah Islamiyyah” oleh Syaikh Abdullah Jibrin, hal 27-28 dengan sedikit perubahan)
|
Bid'ah zaman Rosulullah g ...
subhanallah...nasihat yang ...
Internet bukan termasuk aga...