Cari Artikel

Statistics

Jumlah Kunjungan Konten : 39560

Yang Online

Kami memiliki 13 Tamu online

Login Form

Buat account Untuk dapat mengomentari artikel dan fitur tambahan di uswah.net!



Peta Situs

UswahSko

UswahSko: Sitem Informasi Sekolah

UswahShop

UswahShop
Aqidah Islam yang benar
Dialog Imajiner tentang Asma wa Shifat, Asy'ariyyah dan Ibnu Taimiyyah PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Ilmu Agama - Aqidah
Ditulis oleh Ryan Sofyan   
Share |
Wednesday, 06 Muharram 1431

Dialog Imajiner tentang Asma wa Shifat, Asy'ariyyah dan Ibnu Taimiyyah

Alhamdulillah, washolatu wassalaamu’ala Rasulillah.

A: Asy’ariyah
S: Salafi

Dialog imajiner ini dibuat dengan berkaca dari pengalaman nyata, membaca berbagai pertanyaan yang sering muncul dalam diskusi Asma wa Sifat dan sebagian diambil dengan memodifikasi penjelasan yang dibuat dengan model tanya jawab yang ditulis oleh para ‘ulama. Semoga bermanfaat.

A: Kami memandang Anda termasuk golongan mujassimah yaitu menyerupakan sifat Allah dengan mahluk.

S: Kenapa demikian?

A: Anda menyatakan Allah bersemayam diatas ‘Arsy, turun ke langit dunia, bahkan menyatakan Allah itu duduk (julus/ja la sa). Semua itu merupakan penyerupaan sifat Allah dengan sifat mahluk. Sedangkan kami mensucikan Allah dari penyerupaan itu.

S: Sebelumnya Anda harus memahami dulu kaidah ahlussunnah dalam memahami nama dan sifat Allah. Diantara kaidah yang sering disebutkan adalah itsbat (penetapan) tanpa takyif (menanyakan “bagaimana”), tamtsil atau tasybih (menyerupakan dengan mahluk), ta’thil (meniadakan nama/sifat Allah, baik sebagian atau keseluruhan), tafwidl (menyerahkan maknanya kepada Allah), maupun ta’wil (memalingkan maknanya kepada maknanya yang lain padahal Allah dan Rasul-Nya tidak menetapkan demikian).
Semua penetapan ahlussunnah terhadap Asma wa Sifat dalam kerangka demikian.

A: Sekarang contohnya dalam masalah istiwa’. Kalau kami meyakini bahwa istiwa’ bukanlah bermakna bersemayam, apalagi bertahta atau duduk sebagaimana duduknya manusia. Anda (maksudnya salafi) juga meyakini bahwa Allah dilangit. Kalau kami mensucikan Allah dari sifat-sifat mahluk tersebut yang akan membawa kepada tasybih (penyerupaan dengan mahluk). Maka, dalam rangka mensucikan Allah kami menta’wil sifat istiwa’ (yang artinya bersemayam) menjadi istaula (yang artinya berkuasa). Jadi, Dia-lah yang berkuasa diatas ‘Arsy. Adapun kalau ditanya dimana Allah, kami tidak menjawab seperti Anda: Allah di langit, tetapi menjawab Allah dimana-mana, kemanapun wajah kamu menghadap disitulah Allah. Allah Maha Besar untuk disifati dengan ‘bertempat’ di ‘Arsy, bersemayam di ‘Arsy atau di langit. Allah lebih besar dari segala mahluk-Nya.

S: Kita lihat dulu yang pertama masalah istiwa’. Dengan kerangka kaidah ahlussunnah dalam memahami asma wa sifat yang ada, berarti:
1. Itsbat, menetapkan adanya sifat istiwa’ tersebut karena ada dalam nash.
2. Tanpa mentakyif, berarti tidak boleh menanyakan ‘bagaimana’ tentang sifat istiwa’ tersebut, karena Allah dan Rasul-Nya Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam tidak menerangkan caranya istiwa’.
3. Tanpa mentamsyil atau tasybih, sehingga penetapan istiwa’ dipahami bahwa istiwa’-Nya sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak sama dengan mahluk-Nya, kesamaan hanya dalam hal nama makna yang terkandung dalam nama tersebuit namun hakekatnya seperti apa dan bagaimana tidak bisa dijangkau oleh akal kita.
4. Tanpa menta’thil, tanpa meniadakan sifat istiwa’ tersebut dengan alasan apapun (misalnya karena menyerupai mahluk, tidak bisa dijangkau akal, dsb)
5. Tanpa mentafwidl, yaitu sikap enggan mengartikan kata istiwa’ sesuai makna bahasanya, tetapi menyerahkan maknanya kepada Allah. Sikap mentafwidl berarti menganggap kata istiwa’ adalah kata yang kosong dengan makna.
6. Tanpa menta’wil, tidak memalingkan sifat istiwa’ kepada makna yang lain padahal Allah, Rasul-Nya Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam serta generasi salafusshalih tidak memalingkannya.
Nah, Anda kebanyakan menta’wilkan kata istiwa’ dengan istaula. Apakah penakwilan ini dilakukan atau diterangkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam? Apakah para shahabat menakwilkannya demikian?

A: Ya emang nggak ada dalilnya. 

S: Nah itulah, penta’wilan istiwa’ itu sendiri nggak ada contoh dari Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam dan para shahabatnya.

A: Tapi bukankah kalau kita menetapkan sifat istiwa’ tanpa dita’wil berarti menyatakan Allah bertempat seperti mahluk-Nya?

S: Itu dibantah dengan kaidah ke-3 bahwa penetapan itu tanpa menyatakan bahwa istiwa’-Nya sama dengan mahluk-Nya, butuh tempat, ruang dan waktu. Kita tetapkan saja sesuai dzahir lafadz dan serahkan kaifiyah dan makna hakikinya kepada Allah.
A: Serahkan gimana, berarti tafwidl dong.

S: Bukan. Kadang orang salah mengartikan tafwidl yang dilakukan ulama salaf dengan tafwidl bid’ah yang dilakukan asy’ariyah termasuk petinggi IM. Tafwidl yang dilakukan ulama salaf adalah menyerahkan makna hakiki, tetapi menetapkan dzahir dan makna lafadz. Buktinya, dalam Lum’atul I’tikad, Aqidah Salaf Ashabul Hadits, kita jumpai bentuk-bentuk penyerahan makna hakiki, tetapi tetap menetapkan makna dzahir lafadz. Misalnya Yad berarti tangan, wajah berarti wajah, istiwa’ berarti –dalam makna bahasa Arab- menunjukkan ‘ala wartafa’a atau sifat Al ‘Ulluw (tinggi), nuzul berarti turun dsb. Tafwidl yang keliru adalah tafwidl makna dzahir dan makna hakiki, jadi menetapkan adanya lafadz Yad misalnya, tetapi nggak mau mengartikan secara bahasa bahwa Yad itu artinya tangan, jadi serahkan semuanya kepada Allah, Yad itu nggak tau apa itu maknanya.

A: Kalau diartikan sesuai makna dzahirnya, berarti menyamakan dengan mahluk dong?

S: Ya enggak lah. Anda punya tangan?

A: Ya punya.

S: Monyet punya tangan?

A: Ya punya.

S: Apa Anda akan menyatakan bahwa tangan Anda sama dengan tangan monyet? Jelas enggak. Kesamaan hanya dari sisi nama dan makna dzahir. Hakekat yang sebenarnya jelas beda. Begitu pula, kita tetapkan sifat-sifat Dzatiyah Allah apa adanya sesuai makna dzahir yang sampai kepada kita, tetapi kita yakini semua itu berbeda dengan mahluk-Nya, bahwa sifat-sifat itu sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, dan bahwa kita tidak mampu menjangkau hakekatnya seperti apa.

A: Kalau memang nggak menyerupakan Allah, kenapa kalau ditanya dimana Allah Anda menjawabnya :”Di langit” atau Allah istiwa’ ‘alal arsy?

S: Nah kalau Anda sendiri menjawabnya apa?

A: Allah dimana-mana, semua ini menunjukkan perwujudan-Nya.

S: Kami menjawab Allah di langit (fissamaa’) karena ada hadits shahih yang menyebutkan tentang jawaban ini yang dibenarkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam ketika beliau bertanya “dimana Allah”. Bahwa Allah istiwa’ ‘alal Arsy yang menunjukkan ketinggian atau sifat Al ‘Ulluw, ada banyak ayat yang menunjukkan akan hal ini. Apanya yang salah?: Kami menjawab seperti itu karena ada dalilnya, dan bahwa penetapan seperti itu sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak sama dengan mahluk-Nya. Anda katakan “Allah dimana-mana”, dibantah oleh Abul Hasan Al Ay’ari sendiri dalam Al Ibanah-nya. Dikatakan bahwa dengan penetapan itu berarti Allah berada di tempat-tempat kotor, di padang rumput dsb. He-he..

A: Kenapa ketawa?

S: Saya ingat dulu pernah dialog dengan orang yang nggak mau menyatakan Allah fissama’ padahal hadits shahih menyebutkan tentang hal itu, dan dia tetap berpegang dengan pemahaman Allah dimana-mana. Nah untuk menguji ‘keteguhan’ pandangannya yang keliru itu saya bertanya,”Apakah Allah berada di tinja yang Anda keluarkan”

A: Apa jawabnya?

B: jawabnya Maha Suci Allah dst, terus saya kejar lagi,”Lha gimana, katanya Allah dimana-mana” . Akhirnya nggak jelas. Ketika dia nggak mau mengatakan “Ada”, berarti kaidahnya sendiri dia langgar. Kalau mengatakan ada, berarti dia sedang merendahkan Allah.

A: Tapi apakah Anda berpemahaman Allah duduk?

S: Ahlussunnah/salafi tidak menetapkan sifat-sifat Allah kecuali ada keterangan dari Al Qur’an maupun As Sunnah. Kalau memang ada dalil shahih yang menyebutkan, kita tetapkan sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya dan berbeda dengan mahluk-Nya. Kalau nggak ada atau kalau ada dalil tapi lemah, ya nggak bisa dipake. Kalau saya sendiri nggak berpemahaman seperti itu karena nggak ada dasarnya. Kalau ada hadits atau ayatnya tentu akan saya imani sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya.

A: Katanya Ibnu Taimiyyah menyatakan “Allah turun seperti turunnya saya dari mimbar”

S: Itu kedustaan Ibnu Bathuthah yang dinukil –misalnya- oleh Sirajuddin Abbas. Hidup nggak sejaman kenapa bisa menyaksikan? Lagian, kitab-kitab Ibnu Taimiyyah nggak ada yang menyebutkan seperti itu, justru didalamnya menyebutkan tentang larangan mentamtsil/mentasybih.

A: Katanya lagi bertobat dari itsbat…

S: Gurauan apa lagi ini. Kalau mau melihat pemahaman ‘ulama, liat di kitab-kitabnya, liat hujjahnya. Bukan sekedar katanya-katanya… Kitabnya Al Aqidah Al Washitiyah yang berisi kaidah-kaidah asma wa sifat sangat gamblang menjelaskannya, apalagi kalau kita membaca syarahnya, jelas sekali kaidah penetapan yang gamblang. Yang repot itu Asy’ariyah, bersandar dengan pemahaman ulama disaat masih terkena syubhat, tetapi enggak mau melihat karya-karya terbarunya. Mengaku asy’ari tetapi aqidahnya memakai pemahaman maturidi dan kullabi, sementara pemahaman Abul Hasan Al Asy’ari setelah taubat seperti dalam kitab Al Ibanah dan Maqollat nggak dipakai, padahal kitab itu diakui adanya dan hujjahnya kuat.

A: Oahem..

S: Ngantuk? Ngantuk ya udah dulu, kita lanjutin besok insya Allah. Kalau ada pertanyaan sms aja di 0813xxxxxxxx1, nanti tak carikan jawabannya kalau bisa.

A: Sip lah.

Dan waktupun terus berjalan…


Comments (0)
Only registered users can write comments!
 

Kata Mutiara

Syaikh Al-‘Allamah Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah berkata,

”Makna kalimat “laa ilaaha illallah” adalah “laa ma’buuda bi haqqin illallah” [tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah]. Kalimat “laa ilaaha” bermakna meniadakan seluruh sesembahan selain Allah. Maka tidak ada yang berhak untuk disembah...