|
Wednesday, 06 Muharram 1431  Bencana lidah amat banyak ragamnya. Tidak ada cara yang bisa menyelamatkan dari bencana ini kecuali dengan diam. Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda : “Siapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara kedua tulang dagunya (lidah) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin baginya surga.” (HR. Al Bukhary, At-Tirmidzy dan Ahmad).
Dalam hadits lain beliau bersabda : “Iman seorang hamba tidak istiqamah sebelum hatinya istiqamah. Hatinya tidak istiqamah sebelum lidahnya istiqamah.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad).yang terjemahannya : “Siapa diam maka ia selamat.” (Riwayat Imam Tirmidzy, Imam Ahmad dan Ad-Darimi. Ditashhih oleh al Albani dalam Ash Shahihah).Abu Darda berkata (yang terjemahannya), “Aktifkanlah dua telinga daripada mulutmu, karena engkau diberi dua telinga dan satu mulut.” Ketika berbicara dianggap tidak terlalu penting, maka diam itu memiliki nilai maslahat. Maslahat apa yang diharap oleh seorang hamba, yang lebih baik dari keselamatan dari neraka? Sesungguhnya neraka itu banyak diceburkan kedalamnya orang-orang yang tidak dapat diam dengan baik, yaitu di tempat-tempat yang sebaiknya seseorang diam.
1. Ghibah (menggunjing).
ALLAH menggambarkan dan mengidentikkan ghibah dengan sesuatu yang amat kotor dan menjijikkan. ALLAH berfirman (yang terjemahannya): “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.” (Al Hujurat : 12)
Dari Abu Barzah al-Aslamy, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Wahai sekalian orang yang beriman dengan lidahnya sedangkan imannya itu belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing orang-orang Muslim dan janganlah mencari-cari aib mereka, karena siapa yang mencari-cari aib saudaranya, niscaya Allah akan mencari-cari aib dirinya, dan siapa yang Allah mencari-cari aib dirinya, niscaya Dia akan membuka kejelekannya sekalipun dia bersembunyi di dalam rumahnya.” (Riwayat Abu Daud, At-Tirmidzy, Ibnu Hibban, Ahmad dan Al-Baghawy). Dalam riwayat lain disebutkan (yang terjemahannya), “Jauhilah ghibah, karena ghibah itu lebih keras dari zina. Sesungguhnya seseorang telah berzina dan minum (khamr), kemudian bertaubat dan Allah pun mengampuni dosanya. Sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni oleh Allah, hingga orang yang dighibahinya mengampuninya.”
Makna ghibah di sini adalah, engkau menyebut-nyebut orang lain yang tidak ada di sisimu dengan suatu perkataan yang membuatnya tidak suka jika mendengarnya. Baik dalam soal keadaan jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, akhlaknya, bentuk lahiriyahnya dansebagainya. Caranya pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-olok. Dalil yang menguatkan hal ini, yaitu saat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam ditanya tentang ghibah. Maka beliau menjawab (yang terjemahannya), “Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia sukai.” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana pendapat engkau jika pada diri saudaraku itu memang ada yang seperti kataku wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika pada diri saudaramu itu ada yang seperti katamu, berarti engkau telah mengghibahnya, jika pada dirinya tidak ada yang seperti katamu, berarti engkau telah mendustakannya.” (Diriwayatkan Muslim dan At-Tirmidzy). Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Riba itu ada dua puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.” (As Silsilah Ash Shahihah, 1871)
Ketahuilah bahwa orang yang mendengarkan ghibah juga terlibat dalam perkara ghibah ini, dan tidak lepas dari dosa seperti dosa orang yang mengghibah, kecuali jika dia mengingkarinya dengan lidahnya, atau minimal dengan hatinya. Jika memungkinkan memotong ghibah itu dengan mengalihkannya ke pembicaraan masalah lain, maka hendaklah dia melakukannya. Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam , beliau bersabda (yang terjemahannya): “Barangsiapa ada orang mukmin yang dihinakan di sisinya dan dia sanggup membelanya (namun tidak melakukannya), maka Allah Azza wa Jalla menghinakannya di hadapan banyak orang.” (Diriwayatkan oleh Ahmad).
Beliau juga bersabda (yang terjemahannya): “Barangsiapa membela seorang mukmin dari orang munafik yang menggunjingnya, maka Allah mengutus seorang malaikat yang menjaga dagingnya dari sengatan neraka Jahannam pada Hari Kiamat.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad, Al Baghawy, dan Ibnul Mubarak)
2. Bicara Keji, Suka Mencela dan Mengumpat
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda : “Orang mukmin itu bukanlah orang yang banyak mencela, melaknat, tidak pula berkata keji.” (HR. Al-Bukhary, At- Tirmidzy, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban).
“Jauhilah perkataan keji, karena Allah tidak menyukai perkataan keji dan mengata-ngatai dengan perkataan keji.” (HR .Al Bukhary dalam Adabul Mufrad, Ahmad dan Ibnu Hibban).
Adapun macam-macam sasaran caci maki, celaan dan laknat yang biasa dilakukan manusia adalah:
a.Caci maki terhadap para sahabat
Mencaci maki para sahabat Radhiallaahu 'Anhum termasuk dosa besar. Larangan mencaci maki mereka telah disebutkan, dari Abu Sa’id Radhiallahu 'Anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya):
“Janganlah kalian mencaci para sahabatku. Demi yang diriku ada di tangannya, andaikan salah seorang di antara kalian mengeluarkan shadaqah emas seperti gunung Uhud, dia belum mencapai satu mud salah seorang di antara mereka atau bahkan separuhnya.” (Ditakhrij Al Bukhary, Muslim, Ahmad dan Abu Dawud).
Dalam Mu’jamuth-Thabrany Al-Kabir disebutkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu 'Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Barangsiapa mencaci para sahabatku, maka laknat Allah, para malaikat dan semua manusia diberikan kepadanya.” Tidak ada satu golongan pun yang biasa mencaci maki para sahabat selain dari golongan SYI’AH, pent.
b. Mencaci masa
Disebutkan larangan mencaci peristiwa alam, pergantian masa, hari ataupun mencela hal-hal ini. Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Janganlah kalian mencaci masa, karena Allah itu adalah masa.” (Diriwayatkan Muslim). Dengan kata lain, orang Muslim tidak boleh mencaci maki masa dan tidak berang terhadap kejadian-kejadiannya. Sebab semuanya ada di tangan Allah dan Dialah yang mengendalikan semua urusan menurut kehendak-Nya.
c. Mencaci angin
Dari Ubay bin Ka’ab Radhiallahu 'Anhu,dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam, beliau bersabda (yang terjemahannya):“Janganlah kalian mencaci angin. Jika kalian melihat apa yang kalian tidak sukai, maka ucapkanlah,’Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dari kebaikan angin ini dan kebaikan yang engkau perintahkan kepadanya, dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini dan kejahatan yang ada padanya serta kejahatan yang Engkau perintahkan padanya.” (Ditakhrij At-Tirmidzy. Hadits Shahih. Lihat Shahihul Jami’, nomor 7315).
d. Mencaci penyakit
Orang Mukmin percaya bahwa apa pun musi-bah yang menimpanya merupakan nikmat dari Allah. Boleh jadi musibah ini untuk mengangkat derajatnya atau menghapuskan kesalahan-kesalahannya atau untuk menguji kekuatan imannya.
Dari Jabir Radhiallahu 'anhu , bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Janganlah engkau mencaci sakit demam, karena itu menghilangkan kesalahan-kesalahan Bani Adam, sebagaimana tempat pembakaran tukang besi menghilangkan karat besi.” (Ditakhrij Ahmad. Hadits Shahih, lihat Shahihul Jami’, nomor 7321; As-Silsilah Ash-Shahihah, nomor 1215). Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Janganlah engkau mencaci sakit demam, karena ia menghapus dosa-dosa sebagaimana api menghilangkan karat besi.” (Ditakhrij Ibnu Majah. Hadits Shahih, lihat Shahihul Jami’, nomor 7322).
e. Mencaci orang lain
Orang Muslim dilarang menjadi pencaci, yang mencaci maki apa pun dan tak mampu menguasai lidahnya. Dari Jabir bin Salim Radhiallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Janganlah sekali-kali engkau mencaci seseorang dan janganlah engkau memandang rendah sedikit pun dari yang ma’ruf, sekalipun engkau bicara dengan saudaramu dengan wajah berseri, karena yang demikian ini termasuk yang ma’ruf. Angkatlah izarmu (sarung–pen.) hingga separuh betis. Jika tidak mau, maka sampai kedua mata kaki, dan janganlah engkau menjulurkan izarmu, karena hal itu termasuk kesombongan. Jika ada seseorang mencaci dan mencelamu karena sesuatu yang dia ketahui pada dirimu, maka janganlah engkau (membalas) mencelanya karena sesuatu yang engkau ketahui pada dirinya, karena dialah yang akan menanggung akibatnya yang buruk.” (Ditakhrij Abu Dawud. Hadits Shahih, lihat Shahihul Jami’, nomor 7309).
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kita adalah orang yang tidak lagi mempunyai dirham dan barang dagangan.” Beliau bersabda (yang terjemahannya): “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari ummatku ialah yang datang pada hari Kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat. Dia datang padahal dia telah mencaci ini, menuduh ini, memakan harta ini, menumpahkan darah ini dan memukul ini. Lalu diberikan kepadanya, ini dari kebaikan-kebaikannya dan ini dari kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya sudah habis sebelum dia selesai diadili, maka diambilkan dari kesalahan-kesalahan mereka lalu dilemparkan kepadanya, kemudian dia dilempar ke neraka.” (Diriwayatkan Muslim).
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu 'Anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Sesungguhnya di antara dosa besar yang paling besar itu ialah jika seseorang melaknat kedua orang tuanya.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seseorang melaknat kedua orang tuanya?” Beliau menjawab, “Dia mencaci ayah orang lain, lalu orang lain itu mencaci ayahnya dan mencaci ibunya.” (Ditakhrij Abu Dawud. Hadits Shahih. Lihat Shahihul-Jami’, nomor 2214).
3. Melibatkan Diri dalam Kebatilan
Ikut dalam pembicaraan tentang kedurhakaan, seperti ikut serta di tempat kumpul untuk minum khamr dan tempat berhimpunnya orang-orang fasik.
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam , beliau bersabda (yang terjemahannya): “Sesungguhnya seorang hamba itu benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang menjerumuskannya ke dalam neraka, yang jaraknya lebih dari jarak antara timur dan barat.” (Diriwayatkan al Bukhary, Muslim dan Ahmad). Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Sungguh seorang hamba berbicara satu kalimat, dan ia tidak dapat mempertanggungjawabkan apa yang telah ia bicarakan, maka ia akan diadzab dalam api neraka selama jarak antara Timur dan Barat.” (HR. Imam Bukhari, Fathul Baari)
Dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda (yang terjemahannya): “Orang yang paling dibenci Allah ialah orang yang keras lagi suka bertengkar.” (Diriwayatkan al Bukhary dan Muslim). Maksud bertengkar di sini ialah bertengakar secara bathil atau tanpa dilandasi pengetahuan.
4. Banyak Bicara dengan Memaksakan Diri dengan Kata-kata Bersajak
Memaksakan perkataan dengan kalimat bersajak, dibuat - buat, dan kata - kata yang aneh tidak terhitung dalam perkataan juru pidato. Dari Abu Tsa’labah dia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Sesungguhnya orang yang paling kubenci dan yang paling jauh jaraknya di antara kalian dengan aku pada hari Kiamat ialah orang yang akhlaknya buruk di antara kalian, banyak bicara dan banyak berkata-kata.”
5. Bercanda dalam dusta
Adapun bercanda yang ringan-ringan diperbolehkan dan tidak dilarang selagi benar dan jujur dan tidak dilakukan terus-menerus. Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga suka bercanda dan tidak mengatakan kecuali yang benar.
6. Mengadu Domba
ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, (yang terjemahannya): “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (Al Qalam : 10 – 11)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Tidak masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (Diriwayatkan oleh Bukhary dan Muslim). “Sesungguhnya orang yang paling jahat ialah orang yang memiliki dua wajah, yang datang kepada seseorang dengan satu wajah dan kepada yang lain dengan wajah yang lain pula.” (Diriwayatkan Bukhary dan Muslim) Kesalahan dalam Menjelaskan maksud perkataan yang berkaitan dengan masalah agama, apalagi yang berkaitan dengan Allah Ta’aala. Tidak ada yang bisa meluruskan kesalahan ini kecuali ulama’ yang lurus. Siapa yang ilmunya masih terbatas, perkataannya tentu bisa terpeleset setiap waktu. Dari Salamah bin Al-Akwa’, dia berkata : Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda (yang terjemahannya): “Barangsiapa yang mengatakan atas (nama)ku apa-apa yang tidak aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat di neraka.” (Diriwayatkan Bukhary dan lainnya). Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Barangsiapa berbicara tentang Al Qur’an dengan pendapatnya atau tidak dengan ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka.” (Hadits seperti ini didapat dari dua jalan, yaitu: Ibnu Abbas dan Jundub. Lihat Jami’ Ash-Shahih Sunan Turmidzy jilid 5 hal. 183 no. 2950, Tuhfatul Ahwadzi jilid 8 hal. 277).
Ulama As-Salaf dalam Memelihara Lisan
Dari Muadz bin Sa’id diriwayatkan bahwa ia berkata (yang terjemahannya): “Kami pernah bersama Atha’ bin Rabbah. Tiba-tiba seorang lelaki berbicara dan pembicaraannya dipotong oleh teman-nya. Maka Atha’ berkata: “Subhanallah, akhlak macam apa ini? Sesungguhnya aku dengar orang lain berbicara, sedangkan aku lebih mengerti daripada dirinya, tetapi aku seolah-olah menunjukkan bahwa aku belum mengerti apa yang disampaikannya.” (Shifatush Shafwah, II:214)
Dari Abu Bakar bin Iyyasy diriwayatkan bahwa ia berkata (yang terjemahannya): “Serendah-rendahnya manfaat diam adalah keselamatan, dan dengan itu sudah cukup aman. Sebaliknya serandah-rendahnya akibat bicara ialah keinginan menggapai popularitas, dan itu sudah cukup menjadi bencana.” (Siyaru A’laamin Nubalaa’, VIII:501).
Wallahu A’lamu bish Shawab
Rujukan : 1. Mukhtasar Minhajul Qashidin’ (terjemahan) karya Al Imam Asy Syaikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy (Ibnu Qudamah). 2. Syarh Asbaab Al-‘Asyrah Al Muwajibat Limahabbatillah (Terjemahan) Karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah. 3. Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf (terjemahan) Karya Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil Bahauddin ‘Aqil. 4. Buyut Laa Tadkhuluhal Malaaikah (Terjemahan) karya Abu Hudzaifah Ibrahim bin Muhammad. 5. Muharramaat Istahaana Bihan Naas (Terjemahan) Karya Muhammad Shalih Al Munajjid. 6. Majalah As Sunnah hal. 34, edisi 05/Th. III/1419 1998
|
Bid'ah zaman Rosulullah g ...
subhanallah...nasihat yang ...
Internet bukan termasuk aga...