................Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Salafus Shalih?...................
A. Pengantar (dari Penyusun ulang)
Alhamdulillah, yang telah menunjuki Hidayah-Nya pada kita untuk mengenal Manhaj Salaf (Ahlu Sunnah Wal jama'ah) ini. Tapi akankah semua itu berhenti sampai di situ dan kita merasa telah cukup / puas atas penyandaran kita sebagai seorang Salafy / Al Atsary. Kemudian dengan seenaknya kita merasa paling benar dan menganggap remeh saudara sesama muslim yang belum paham tentang Manhaj Salaf. Bahkan sering kita temui, saudara - saudara kita (salafiyun) yang bermaksud baik untuk menerangkan al haq, tetapi cara yang digunakan adalah melalui kata-kata yang kasar. Bahkan (Afwan) sampai pada batas saling mencela. Maka Dakwah yang baik, akhirnya berubah menjadi debat kusir yg tercela. Sebagian yang lain mengatakan dirinya sebagai seorang penuntut ilmu, tapi sayang yang ia lakukan sangat jauh dari adab - adab seorang penuntut ilmu, dimana ia berani mengangkat dirinya seolah seorang Ahli Fatwa ('Ulama) dan (Afwan) dengan lancangnya mentahdzir (dg tanpa Ilmu) para penyeru kenbenaran (para 'Ulama, Asatidz Ahlu Sunnah Wal Jama'ah dan Penuntut Ilmu yang lain). Maka jadilah ia sumber fitnah yang meresahkan ummat. Saudaraku Apakah demikian yang diajarkan oleh para Salafussholeh? Jika tidak, Fa Aina Nahnu Min Akhlaqis Salaf?












1. Ada seorang pemuda penuntut ilmu pernah naik mobil bersama Syaikh al-Abani rahimahullah. Syaikh al-Abani mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Melihatnya, maka pemuda itupun menegur:”Wahai Syaikh,ini namanya ‘ngebut’ dan hukumnya tidak boleh. “Syaikh ibnu Baz mengatakan bahwa hal ini termasuk menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Mendengarnya, Syaikh al-Albani rahimahullah tertawa lalu berkata:”Ini adalah fatwa seseorang yang tidak merasakan nikmatnya mengemudi mobil!!.” Pemuda itu berkata: “Syaikh, akan saya laporkan hal ini kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz.” Jawab Syaikh al-Abani;”Silahkan,laporka










